Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.
Buat kalian yang main Shutterstock sebagai contributor, mungkin pernah kepikiran:
"Kalo aku selama ini upload foto, terus mau upload vector juga, boleh nggak sih?"
Nah, jawabannya cukup simpel:
Boleh. Kalian bisa upload foto dan vector dalam satu akun contributor Shutterstock yang sama. Jadi nggak perlu bikin akun baru cuma karena jenis karya yang kalian upload berbeda.
Foto dan vector bisa satu akun?
Yes, bisa. Shutterstock memang menerima berbagai jenis konten dari contributor, termasuk foto, ilustrasi, vector, dan video. Di halaman bantuan resminya, Shutterstock bahkan menyediakan panduan pengiriman secara terpisah untuk foto, ilustrasi, vector, dan video. Artinya, satu akun contributor bisa digunakan untuk mengirim berbagai jenis karya tersebut.
Misalnya akun kalian selama ini isinya:
- 500 foto
- 100 vector
- 50 ilustrasi
- 20 video
Itu bukan masalah selama semua karya tersebut memang memenuhi persyaratan Shutterstock. Jadi nggak ada aturan yang mengatakan:
"Kalo akun kamu upload foto, kamu cuma boleh upload foto."
Nggak begitu.
Malah Shutterstock memang menyediakan pengelolaan berbagai jenis konten
Di halaman Portfolio contributor, Shutterstock menjelaskan bahwa halaman tersebut digunakan untuk mengelola seluruh konten yang kita kirimkan ke marketplace. Menariknya, di bagian upload kita bahkan bisa memilih tampilan Images atau Videos, sementara file vector dengan ekstensi tertentu akan dikenali secara otomatis sebagai ilustrasi ketika di-upload.
Jadi dari sistemnya sendiri memang sudah dirancang untuk menangani berbagai macam jenis konten. Kita tinggal upload sesuai format yang benar.
Tapi foto dan vector punya persyaratan yang berbeda
Nah, ini yang perlu diperhatikan. Walaupun bisa berada dalam satu akun, bukan berarti aturan untuk foto dan vector sama persis. Foto punya persyaratan teknis sendiri.
Misalnya Shutterstock saat ini menerima foto dalam format JPEG dan TIFF dengan ukuran minimal 4 megapixel.
Sedangkan vector punya aturan sendiri. Untuk vector, Shutterstock menerima file EPS dengan ukuran file maksimal tertentu, ukuran bounding box antara 4 MP sampai 25 MP, dan harus kompatibel dengan format Adobe Illustrator 8 atau 10.
Jadi jangan sampai karena kita sudah terbiasa upload foto, kita mengira vector tinggal upload begitu saja tanpa memperhatikan aturan teknisnya. Jenis kontennya beda, persyaratannya juga bisa beda.
Terus apakah portfolio jadi berantakan?
Nggak juga. Shutterstock memang menyediakan sistem untuk mengelola berbagai jenis konten dalam satu portfolio. Misalnya kalian punya niche fotografi makanan, tapi di sisi lain kalian juga suka bikin vector icon. Keduanya bisa tetap berada di akun yang sama.
Contohnya:
Photography
- food photography
- nature
- lifestyle
- travel
- business
Vector
- icons
- patterns
- backgrounds
- illustrations
- infographics
Jadi jangan merasa harus membuat akun baru hanya supaya portfolio kalian terlihat lebih "rapi". Yang penting karya-karya tersebut memang milik kalian dan memenuhi aturan Shutterstock.
Justru bisa jadi keuntungan buat contributor
Menurutku, ini malah bisa jadi salah satu keuntungan. Bayangkan kalian selama ini cuma mengandalkan foto. Ada bulan tertentu kalian lagi nggak sempat hunting foto karena cuaca jelek atau nggak punya ide. Tapi kalian masih bisa duduk di depan komputer dan bikin vector.
Misalnya:
- Senin–Rabu: bikin vector
- Kamis: upload foto yang sudah dipotret
- Jumat: bikin beberapa ilustrasi
Akhirnya satu akun bisa punya beberapa sumber konten. Ini juga cocok buat contributor yang memang punya lebih dari satu kemampuan. Misalnya kalian seorang photographer tapi juga bisa Adobe Illustrator. Kenapa cuma mengandalkan satu jenis karya? Kalo bisa menghasilkan dua jenis konten, ya manfaatkan aja.
Tapi jangan upload karya yang sama secara sembarangan
Nah, ini penting. Boleh upload foto dan vector dalam satu akun, tapi bukan berarti satu karya bisa diakalin dengan cara di-upload berkali-kali sebagai jenis konten yang berbeda.
Shutterstock punya aturan mengenai konten duplikat dan juga aturan kualitas masing-masing jenis konten. Jadi misalnya kalian punya sebuah foto lalu cuma diberi sedikit filter atau perubahan kecil, kemudian mencoba mengirimnya berkali-kali sebagai karya yang berbeda, itu bukan strategi yang bagus.
Begitu juga dengan vector. Jangan membuat puluhan file yang sebenarnya cuma perubahan warna atau perubahan yang sangat kecil lalu mengirim semuanya secara berlebihan.
Yang perlu kita kejar bukan sekadar:
"Gimana caranya upload sebanyak mungkin?"
Tapi:
"Gimana caranya bikin banyak karya yang memang punya nilai?"
Vector juga nggak berarti harus jago gambar
Ini mungkin menarik buat kalian yang selama ini photographer tapi pengen mencoba vector. Vector di Shutterstock nggak selalu berarti harus menggambar karakter yang rumit. Ada banyak jenis vector yang lebih sederhana, misalnya:
- seamless pattern
- background
- icon
- abstract shape
- business illustration
- infographic elements
- decorative elements
- texture
- simple symbols
Jadi kalo kalian sudah terbiasa menggunakan Illustrator, kalian bisa mulai dari jenis vector yang lebih sederhana dulu. Apalagi kalo kalian memang punya kemampuan desain grafis. Daripada skill desain cuma digunakan buat pekerjaan client, bisa juga dimanfaatkan untuk membuat aset stock.
Tapi jangan sampai bikin akun kedua
Nah, ini justru bagian yang harus hati-hati. Kalo tujuan kalian cuma karena ingin memisahkan portfolio foto dan vector, nggak perlu bikin akun Shutterstock kedua. Shutterstock secara resmi menyatakan bahwa contributor nggak diperbolehkan membuka akun Shutterstock kedua tanpa izin dari Shutterstock.
Jadi jangan berpikir:
Akun 1 = Photography
Akun 2 = Vector
kalo cuma karena ingin memisahkan jenis karya. Itu justru bisa menimbulkan masalah karena Shutterstock punya aturan mengenai kepemilikan dan jumlah akun contributor. Mending satu akun dimaksimalkan.
Yang paling penting: karya harus milik sendiri
Apapun jenis kontennya, Shutterstock mewajibkan contributor hanya mengirim karya yang mereka miliki atau punya hak cipta untuk dikirimkan.
Jadi berlaku untuk foto maupun vector. Foto harus karya kalian sendiri. Vector juga harus karya kalian sendiri. Jangan mengambil vector dari internet, membeli vector orang lain lalu meng-upload ulang, atau menggunakan aset yang ternyata nggak memberikan hak untuk dijual sebagai stock.
Shutterstock menegaskan bahwa contributor harus memiliki atau mengendalikan hak cipta atas konten yang dikirimkan. Jadi yang aman adalah:
Bikin sendiri → upload sendiri → dapat royalty sendiri.
Bagaimana dengan AI?
Nah, kalo ngomongin vector sekarang, bagian ini juga perlu diperhatikan. Shutterstock saat ini menyatakan bahwa mereka nggak menerima konten buatan AI dari contributor.
Jadi jangan berpikir:
"Karena vector boleh, berarti vector hasil AI juga boleh."
Belum tentu. Jenis file dan asal-usul kontennya adalah dua hal yang berbeda. Vector boleh dikirimkan, tapi tetap harus mengikuti kebijakan Shutterstock mengenai sumber dan pembuatan konten.
Jadi lebih bagus fokus foto atau campur foto + vector?
Kalo menurutku, nggak ada jawaban yang berlaku untuk semua orang. Kalo kalian memang jago fotografi dan nggak terlalu bisa desain, ya fokus foto aja. Tapi kalo kalian photographer sekaligus graphic designer, kenapa nggak memanfaatkan dua-duanya?
Misalnya kalian punya:
Skill 1 → Photography Bisa bikin stock photo.
Skill 2 → Illustrator Bisa bikin vector.
Akhirnya kalian punya dua jenis portfolio dalam satu akun. Dan menurutku ini jauh lebih masuk akal daripada bikin dua akun hanya untuk memisahkan jenis karya.



0 comments:
Posting Komentar