Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.
Kalo kalian pernah upload foto dan video ke Shutterstock, mungkin kalian pernah sadar satu hal: harga video di Shutterstock biasanya jauh lebih mahal dibandingkan foto.
Misalnya, satu foto stock bisa dihargai relatif murah oleh pelanggan, sementara satu video footage, terutama yang 4K, bisa punya harga lisensi yang jauh lebih tinggi. Nah, sebenarnya kenapa sih video bisa dihargai lebih mahal? Apakah karena ukuran filenya lebih besar? Atau karena proses uploadnya lebih ribet? Jawabannya bukan cuma itu.
1. Membuat video memang membutuhkan biaya dan usaha lebih besar
Coba kita bandingkan. Untuk membuat sebuah foto, kita bisa mengambil satu frame dan selesai. Tapi untuk membuat footage video, kita harus merekam sekumpulan frame secara terus-menerus.
Misalnya kita mau membuat footage orang sedang berjalan di taman.
Foto cukup:
Jepret → selesai.
Tapi video bisa membutuhkan:
Persiapan → menentukan angle → merekam → memastikan gerakan kamera bagus → mengecek fokus → mengecek exposure → editing atau color correction → export → upload.
Belum lagi kalo kita menggunakan kamera, lensa, tripod, gimbal, lighting, microphone, drone, atau peralatan lainnya. Jadi secara produksi, video memang cenderung membutuhkan resource yang lebih besar.
Shutterstock sendiri menjelaskan bahwa footage premium seperti Shutterstock Select dibuat untuk kebutuhan produksi film dan video berkualitas tinggi, sehingga biaya produksinya secara alami lebih tinggi. Pelanggan khusus untuk konten seperti ini juga bersedia membayar lebih untuk kualitas dan variasinya.
2. Video memberikan sesuatu yang nggak bisa diberikan oleh foto
Foto hanya memberikan satu momen. Sedangkan video bisa memberikan gerakan, suasana, dan rangkaian kejadian.
Contohnya kita punya footage seseorang sedang mengetik laptop.
Foto cuma menunjukkan:
seseorang sedang mengetik laptop.
Tapi video bisa menunjukkan:
tangan mengetik, layar laptop, gerakan tubuh, suasana ruangan, sampai ekspresi orang tersebut.
Buat pembuat film, iklan, YouTuber, media, perusahaan, atau pembuat konten, footage seperti ini bisa jauh lebih berguna. Mereka nggak perlu merekam semuanya sendiri. Tinggal cari footage yang sesuai, download, lalu masukkan ke dalam proyek mereka.
3. Video bisa menghemat biaya produksi pelanggan
Ini salah satu alasan kenapa footage punya nilai yang cukup tinggi. Bayangkan sebuah perusahaan ingin membuat video iklan tentang kehidupan di kota. Mereka membutuhkan footage seperti:
- jalanan kota
- orang berjalan
- kendaraan lewat
- gedung tinggi
- sunset
- aerial view
- suasana kantor
- orang bekerja di laptop
Kalo semuanya harus direkam sendiri, tentu membutuhkan kamera, kru, lokasi, izin, transportasi, waktu, dan biaya produksi. Daripada melakukan semua itu, mereka bisa membeli footage yang sudah tersedia. Jadi yang sebenarnya dibeli pelanggan bukan cuma "file video".
Mereka membeli kemudahan dan penghematan waktu produksi.
4. 4K biasanya punya harga lebih tinggi
Nah, ini menarik buat kita sebagai contributor. Shutterstock secara resmi menyebutkan bahwa footage 4K ditawarkan dengan harga lebih tinggi dibandingkan format lainnya, sehingga penghasilan contributor per clip juga bisa lebih tinggi.
Kenapa? Karena 4K menawarkan resolusi yang lebih tinggi dan lebih banyak detail. Untuk produksi profesional, kualitas seperti ini tentunya lebih menarik.
Misalnya pelanggan sedang membuat video yang nantinya akan ditampilkan di layar besar. Mereka tentu nggak mau footage yang kualitasnya terlalu rendah. Dengan footage 4K, pelanggan juga punya lebih banyak fleksibilitas saat melakukan editing, seperti cropping atau reframing, tanpa kehilangan kualitas sebanyak ketika menggunakan footage dengan resolusi lebih rendah.
Jadi kalo kalian punya kemampuan untuk menghasilkan footage 4K yang bagus, jangan buru-buru merasa percuma upload karena ukuran filenya lebih besar. Justru format tersebut punya nilai jual yang lebih tinggi.
5. Harga video bukan berarti contributor otomatis mendapatkan harga tersebut
Ini bagian yang sering bikin salah paham. Misalnya kita melihat sebuah video di Shutterstock dan harganya $50. Bukan berarti contributor langsung mendapatkan $50.
Shutterstock menjelaskan bahwa contributor mendapatkan persentase dari harga yang dibayarkan pelanggan untuk lisensi, bukan seluruh harga tersebut. Saat ini terdapat 6 level penghasilan untuk gambar dan video, dengan persentase mulai dari 15% sampai 40%.
Selain itu, jumlah penghasilan dari satu download juga bisa berbeda tergantung paket pelanggan, jenis lisensi, dan level penghasilan contributor saat download terjadi. Jadi jangan heran kalo kita melihat harga sebuah footage cukup tinggi, tapi earning yang masuk ke akun kita ternyata nggak sebesar harga jual yang terlihat oleh pelanggan.
6. Ada juga perbedaan antara footage biasa dan footage premium
Shutterstock bahkan mempunyai koleksi khusus bernama Shutterstock Select. Koleksi ini ditujukan untuk footage premium dengan standar produksi tinggi.
Shutterstock menjelaskan bahwa footage Select dibuat menggunakan peralatan profesional, termasuk kamera dan lensa cinema-grade, dan tersedia dalam format HD serta 4K. Karena ditujukan untuk produksi film dan video berkualitas tinggi, pelanggan dari segmen ini bersedia membayar lebih untuk kualitas dan variasi footage tersebut.
Artinya, di dunia stock footage memang ada tingkatan kualitas. Nggak semua video punya nilai yang sama. Video yang asal rekam tentu beda dengan footage yang:
- komposisinya bagus
- gerakannya smooth
- exposure-nya tepat
- fokusnya tajam
- kualitas gambarnya bersih
- punya commercial value
- dan cocok digunakan dalam produksi profesional
Makanya jangan berpikir:
"Yang penting video."
Tapi pikirkan:
"Apakah video ini benar-benar berguna buat orang lain?"
7. Tapi kenapa foto lebih murah?
Karena pasar foto jauh lebih mudah dipenuhi. Kita sekarang bisa mengambil foto hanya dengan smartphone. Bahkan dalam satu sesi pemotretan, seorang photographer bisa menghasilkan puluhan sampai ratusan foto.
Sementara untuk mendapatkan footage yang benar-benar usable, kita harus memperhatikan lebih banyak hal. Misalnya kamera bergerak terlalu goyang sedikit saja, footage bisa jadi nggak usable.
- Fokus berubah-ubah? Bisa gagal.
- Exposure berubah? Bisa gagal.
- Ada noise berlebihan? Bisa gagal.
- Gerakan kamera terlalu cepat? Bisa gagal.
Karena video merupakan media bergerak, kesalahan kecil selama beberapa detik saja bisa membuat seluruh clip nggak menarik untuk digunakan.
Shutterstock sendiri memiliki persyaratan kualitas untuk foto dan video, termasuk pemeriksaan terhadap hal-hal seperti fokus, exposure, dan noise.
8. Jadi apakah upload video lebih menguntungkan daripada foto?
Potensinya memang bisa lebih besar, tapi bukan berarti pasti lebih menguntungkan. Ini yang perlu digarisbawahi. Harga jual yang lebih tinggi bukan berarti setiap video pasti menghasilkan banyak uang.
Video juga membutuhkan:
- waktu produksi lebih lama
- storage lebih besar
- proses editing lebih berat
- upload yang lebih lama
- koneksi internet yang lebih besar
- perangkat yang mungkin lebih mahal
Jadi ada trade-off-nya. Misalnya kita bisa membuat 100 foto dalam sehari, tapi cuma bisa menghasilkan 10 footage yang benar-benar bagus. Belum tentu 10 video tersebut langsung mengalahkan penghasilan 100 foto.
Tapi kalo kita bisa menghasilkan footage yang memang dicari pelanggan, peluang earning per lisensinya bisa lebih menarik.
9. Jangan cuma mengejar resolusi
Satu hal lagi yang menurutku penting. Jangan berpikir:
"Kalo mau laku berarti harus 4K."
4K memang mempunyai harga yang lebih tinggi di Shutterstock, tetapi resolusi bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah sebuah footage menarik bagi pelanggan.
Footage 4K yang isinya membosankan tetap saja bisa nggak laku. Sebaliknya, footage yang idenya sangat dibutuhkan pelanggan bisa mempunyai nilai tinggi walaupun konsepnya sederhana.
Misalnya footage:
- orang bekerja dari rumah
- pembayaran menggunakan smartphone
- delivery makanan
- meeting online
- aktivitas keluarga
- transportasi
- teknologi
- bisnis
- kesehatan
- lingkungan
- lifestyle
Hal yang lebih penting adalah kegunaan footage tersebut untuk kebutuhan pelanggan.
Jadi jangan cuma mengejar:
4K + kamera mahal = pasti laku.
Nggak sesederhana itu.
Kesimpulan
Jadi, kenapa video di Shutterstock bisa dihargai lebih mahal daripada foto?
Karena video mempunyai nilai produksi dan penggunaan yang berbeda. Membuat video umumnya membutuhkan lebih banyak waktu, peralatan, proses produksi, storage, dan kemampuan teknis. Selain itu, footage bisa digunakan dalam berbagai produksi seperti film, iklan, presentasi, dokumenter, konten digital, dan berbagai proyek kreatif lainnya.
Untuk format tertentu seperti 4K, Shutterstock memang secara resmi menyebutkan bahwa footage tersebut ditawarkan dengan harga lebih tinggi sehingga earning per clip juga bisa lebih tinggi.
Tapi sebagai contributor, kita tetap harus ingat bahwa harga yang dibayar pelanggan bukan berarti seluruhnya masuk ke kantong kita. Penghasilan kita merupakan persentase dari harga lisensi dan dipengaruhi oleh paket, jenis lisensi, serta level penghasilan kita.
Jadi kalo selama ini kalian cuma fokus upload foto, mungkin sudah waktunya mulai mencoba stock footage juga. Apalagi sekarang kamera smartphone pun sudah semakin bagus. Nggak harus langsung punya kamera cinema mahal. Mulai aja dari footage sederhana yang punya nilai komersial dan memang bisa membantu orang lain dalam membuat sebuah video.
Karena pada akhirnya, yang dicari pelanggan bukan sekadar video yang bagus, tapi video yang mereka butuhkan.



0 comments:
Posting Komentar