Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.
Buat yang sudah mulai upload foto ke Shutterstock, mungkin pernah mengalami hal seperti ini. Sudah daftar. Sudah upload. Sudah ada beberapa foto yang Approved. Tapi... Download-nya masih 0. 😅
Hari pertama, masih santai. Seminggu, masih sabar. Sebulan kemudian mulai bertanya-tanya: "Kok foto saya belum juga laku?" Apakah fotonya jelek? Apakah Shutterstock nggak menampilkan foto kita? Atau jangan-jangan ada yang salah dengan akun kita?
Tenang, kawan-kawan. Belum ada download bukan berarti foto kita jelek. Ada banyak kemungkinan kenapa sebuah foto belum mendapatkan download. Yuk kita bahas satu-satu.
1. Portfolio Kita Masih Sedikit
Ini salah satu kemungkinan yang paling sederhana. Kalo baru upload 5 atau 10 foto, tentu peluang mendapatkan download masih terbatas. Bayangkan kita punya sebuah toko. Tapi barang yang dijual cuma 5 buah. Tentu kemungkinan ada pembeli tetap ada, tapi pilihannya lebih sedikit dibanding toko yang punya ribuan barang.
Begitu juga dengan microstock. Semakin banyak karya yang relevan dan berkualitas di portfolio, semakin banyak juga kesempatan karya kita ditemukan oleh calon pembeli. Bukan berarti harus upload sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kualitas. Tapi jangan berharap punya 5 foto lalu langsung mendapatkan banyak download.
2. Foto Kita Bagus, Tapi Nggak Terlalu Dibutuhkan
Nah, ini agak pahit. 😄 Kadang kita membuat foto yang menurut kita bagus banget. Komposisinya keren. Warnanya bagus. Editannya mantap. Tapi ternyata... Nggak banyak orang yang membutuhkan foto seperti itu.
Di microstock, foto yang bagus belum tentu menjadi foto yang banyak dicari. Karena yang membeli karya kita bukan kita. Yang menentukan apakah foto tersebut berguna adalah pembeli.
Misalnya kita punya foto pemandangan yang sangat indah. Bisa jadi secara fotografi bagus banget. Tapi kalo pembeli sedang mencari foto orang bekerja menggunakan laptop, tentu foto pemandangan tersebut nggak akan membantu kebutuhan mereka.
Jadi selain memikirkan: "Foto ini bagus nggak?"
Coba mulai berpikir: "Foto ini bisa digunakan untuk apa?"
3. Keyword Kita Kurang Tepat
Ini juga penting banget. Kawan-kawan sudah punya foto yang bagus. Tapi kalo keyword-nya nggak tepat, pembeli bisa kesulitan menemukan foto tersebut. Bayangkan ada foto seorang pria sedang bekerja menggunakan laptop.
Tapi keyword yang kita masukkan malah: nature, mountain, travel, holiday, landscape
Ya jelas susah ditemukan oleh orang yang sedang mencari foto tentang work from home. 😅 Makanya keyword bukan sekadar formalitas saat upload. Keyword membantu pembeli menemukan karya kita. Jadi gunakan keyword yang benar-benar menggambarkan isi foto. Jangan asal memasukkan kata yang populer hanya karena berharap foto kita muncul di lebih banyak pencarian.
4. Judul dan Deskripsi Kurang Menggambarkan Foto
Selain keyword, judul dan deskripsi juga perlu diperhatikan. Coba bayangkan ada dua foto yang sama.
Foto pertama diberi judul: "Man"
Foto kedua: "Young man working on laptop at home while drinking coffee"
Mana yang lebih memberikan informasi? Tentu yang kedua. Judul dan deskripsi yang jelas membantu menjelaskan isi karya kita. Tapi jangan juga membuat judul yang terlalu panjang dan memasukkan kata-kata yang nggak berhubungan.
Jelaskan foto sesuai kenyataan. Sederhana, tapi relevan.
5. Foto Kita Bersaing dengan Banyak Karya Lain
Nah, ini juga jangan dilupakan. Shutterstock bukan toko yang cuma berisi karya kita. Ada banyak banget contributor dari berbagai negara yang mengupload karya setiap hari.
Artinya, ketika seseorang mencari: "business woman laptop" foto kita bukan satu-satunya yang muncul. Ada banyak karya lain yang juga menggunakan konsep serupa. Jadi foto kita harus bersaing dengan karya lainnya.
Itulah kenapa membuat foto dengan konsep yang terlalu umum bisa terasa sulit. Bukan berarti nggak bisa laku. Tapi persaingannya memang lebih tinggi.
6. Foto Kita Terlalu Umum
Misalnya kawan-kawan membuat foto: apel di atas meja.
Bagus? Bisa aja. Tapi sudah ada berapa juta foto apel di internet? Nah, ini yang perlu dipikirkan. Bukan berarti foto sederhana nggak bisa laku. Justru foto sederhana juga bisa laku. Tapi coba berikan konsep atau penggunaan yang lebih jelas.
Misalnya bukan cuma: apel di atas meja
tapi: apel, kalkulator, dan catatan pengeluaran untuk konsep budgeting.
Objeknya masih sederhana. Tapi sekarang ada cerita dan kemungkinan penggunaannya.
7. Belum Cukup Lama
Ini juga sering terjadi pada contributor baru. Baru upload beberapa hari... Terus sudah mulai khawatir.
"Kok belum ada yang download?"
Kawan-kawan, microstock bukan seperti jualan di marketplace yang produknya bisa langsung dibeli setelah kita upload. Karya kita harus ditemukan oleh orang yang memang sedang membutuhkan karya tersebut. Bisa saja sebuah foto mendapatkan download dalam beberapa hari. Tapi bisa juga baru mendapatkan download setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan lebih lama.
Jadi jangan langsung menganggap karya gagal hanya karena belum mendapatkan download dalam waktu singkat.
8. Kita Belum Konsisten Upload
Misalnya bulan pertama kita upload 20 foto. Setelah itu berhenti. Bulan berikutnya nggak upload. Bulan berikutnya juga nggak. Akhirnya portfolio kita berhenti di 20 foto. Padahal kita berharap penghasilan terus bertambah.
Nah, ini agak sulit. Microstock lebih cocok dipandang sebagai membangun aset digital secara bertahap. Hari ini kita membuat karya. Besok tambah lagi. Minggu depan tambah lagi. Bulan depan tambah lagi. Lama-lama portfolio semakin besar. Dan setiap karya punya kesempatan untuk mendapatkan download.
9. Kita Terlalu Fokus pada Satu Jenis Foto
Misalnya seluruh portfolio kita isinya cuma: pemandangan. Sementara kebutuhan pembeli sangat luas. Ada yang mencari:
- Business
- Food
- Technology
- Lifestyle
- Education
- Health
- Finance
- Travel
- Nature
- Family
- Sports
- Background
- Dan masih banyak lagi.
Bukan berarti kita harus menguasai semua kategori. Tapi sesekali coba eksplorasi tema lain. Siapa tahu justru menemukan niche yang lebih banyak menghasilkan download.
10. Foto Kita Belum Menjawab Kebutuhan Desain
Ini salah satu cara berpikir yang menurut saya penting banget buat contributor. Coba jangan cuma melihat foto sebagai foto. Tapi lihat sebagai bahan yang akan digunakan oleh designer atau pembeli.
Misalnya foto orang sedang bekerja. Kalo orang tersebut memenuhi seluruh frame, designer mungkin kesulitan menambahkan tulisan. Tapi kalo ada ruang kosong di sebelahnya, foto tersebut bisa lebih fleksibel untuk digunakan sebagai:
- Banner
- Website
- Poster
- Social media
- Presentasi
- Iklan
Makanya konsep seperti copy space bisa menjadi nilai tambah. Bukan berarti setiap foto harus punya ruang kosong. Tapi coba pikirkan:
"Kalo saya jadi designer, foto ini bisa saya pake untuk apa?"
Jangan Langsung Menghapus Foto yang Belum Laku
Nah, ini penting. Ada contributor yang melihat sebuah foto nggak mendapatkan download selama beberapa bulan, kemudian langsung berpikir:
"Berarti foto ini nggak laku."
Belum tentu. Foto stock punya umur yang cukup panjang. Kebutuhan pembeli bisa berubah. Tren bisa berubah. Topik tertentu bisa tiba-tiba menjadi populer. Foto yang hari ini nggak mendapatkan download belum tentu selamanya nggak akan mendapatkan download.
Jadi kalo foto tersebut sudah approved dan nggak melanggar aturan, nggak perlu buru-buru dihapus hanya karena belum laku. Biarkan saja tetap berada di portfolio sambil kita membuat karya baru.
Jangan Terlalu Terobsesi dengan Download
Ini mungkin bagian yang paling penting. Kalo baru mulai microstock, jangan setiap hari membuka dashboard sambil berharap:
"Hari ini download berapa?"
Terus kalo 0, langsung stres. 😅 Microstock itu lebih cocok dimainkan dalam jangka panjang. Anggap setiap karya sebagai aset digital. Hari ini kita bikin. Upload. Kemudian karya tersebut bisa terus memiliki kesempatan untuk menghasilkan di masa depan. Tugas kita adalah terus menambah aset tersebut.
Jadi Harus Upload Berapa Banyak?
Nggak ada angka ajaib seperti: "Upload 500 foto pasti laku."
Nggak ada rumus seperti itu. Ada contributor yang mendapatkan download dengan portfolio yang relatif kecil. Ada juga yang membutuhkan ribuan karya untuk mendapatkan hasil yang signifikan.
Karena setiap contributor punya niche, kualitas, pasar, pengalaman, dan strategi yang berbeda. Jadi jangan terlalu terpaku pada jumlah. Mending fokus pada:
Kualitas + relevansi + metadata + konsistensi.


0 comments:
Posting Komentar