Belajar mencari uang secara online

Cari artikel disini ...

Kenapa Daftar Jadi Contributor iStock gettyimages Susah Diterima?



Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.

Kalo kalian pernah mencoba daftar jadi contributor iStock, mungkin pernah mengalami hal yang cukup bikin bingung. Udah daftar. Udah pilih foto terbaik. Udah merasa foto yang dikirim bagus.

Tapi beberapa waktu kemudian... Nggak diterima. Padahal kalo dibandingkan dengan foto yang pernah diterima di Shutterstock atau Adobe Stock, rasanya foto kita nggak jelek-jelek amat. Terus muncul pertanyaan,

"Kenapa sih daftar jadi contributor iStock kok susah diterima?"

Nah, di artikel kali ini kita bahas kenapa prosesnya bisa terasa lebih sulit dan apa yang bisa kawan-kawan lakukan supaya peluang diterima lebih besar.

iStock Memang Punya Proses Seleksi

Hal pertama yang perlu dipahami adalah, menjadi contributor iStock bukan sekadar bikin akun lalu langsung bebas upload karya. Ada proses pengajuan dan seleksi karya.

Jadi ketika mendaftar, kawan-kawan perlu menunjukkan beberapa contoh karya terbaik untuk dinilai. Artinya, proses ini bisa dianggap seperti seleksi portofolio.

Mereka nggak cuma melihat apakah foto kita bagus secara teknis, tapi juga melihat apakah karya tersebut sesuai dengan standar dan kebutuhan koleksi mereka. Jadi jangan heran kalo foto yang menurut kita sudah bagus ternyata belum tentu diterima.

Foto Bagus Belum Tentu Cocok Jadi Foto Stock

Nah, ini yang sering bikin kita salah paham. Misalnya kawan-kawan punya foto sunset yang bagus banget. Warna langitnya cantik. Komposisinya juga keren. Editing nya mantap. Secara fotografi memang bagus. Tapi pertanyaannya:

"Foto ini bisa dipake untuk kebutuhan apa?"

Karena di dunia stock photography, kita nggak cuma menjual keindahan sebuah foto. Kita menjual kegunaan. Pembeli biasanya punya kebutuhan tertentu. Mereka mungkin membutuhkan foto untuk artikel, iklan, website, brosur, media sosial, presentasi, dan berbagai kebutuhan bisnis lainnya.

Jadi foto yang kelihatannya sederhana bisa saja punya nilai komersial yang lebih tinggi dibanding foto yang jauh lebih artistik.

Jangan Kirim Foto yang Hampir Sama

Misalnya kita diminta mengirim beberapa contoh karya. Jangan semuanya foto yang hampir sama. Contohnya:

Foto pertama orang sedang bekerja di depan laptop. Foto kedua orang yang sama, tempat yang sama, cuma kameranya digeser sedikit. Foto ketiga masih orang yang sama dengan pose yang hampir sama.

Sampai akhirnya semua contoh foto terlihat seperti satu sesi pemotretan yang sama. Mending manfaatkan kesempatan tersebut untuk menunjukkan kemampuan kita. Pilih karya yang lebih beragam.

Misalnya ada foto lifestyle, bisnis, makanan, olahraga, keluarga, atau aktivitas sehari-hari. Dengan begitu, portofolio kita bisa memberikan gambaran yang lebih luas tentang kemampuan kita sebagai contributor.

Kualitas Teknis Tetap Penting

Walaupun kebutuhan pasar penting, jangan lupa bahwa kualitas teknis tetap menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan. Pastikan foto kita:

  • Tajam dan fokus.
  • Nggak memiliki noise berlebihan.
  • Pencahayaannya bagus.
  • Nggak terlalu gelap atau terlalu terang.
  • Warnanya nggak berlebihan.
  • Nggak memiliki artefak editing.
  • Memiliki resolusi yang memadai.

Kadang foto terlihat bagus ketika dilihat di layar HP. Tapi begitu diperbesar sampai 100 persen di komputer, baru kelihatan ternyata ada noise, fokus yang sedikit meleset, atau detail yang rusak. Jadi sebelum mengirim karya, mending dicek lagi dengan teliti.

Nilai Komersial Juga Penting

Selain kualitas teknis, coba pikirkan juga dari sudut pandang pembeli. Misalnya kalian punya foto seorang wanita sedang bekerja menggunakan laptop. Foto seperti ini bisa dipake untuk banyak kebutuhan. Bisa untuk artikel tentang pekerjaan. Bisa untuk bisnis. Bisa untuk freelancer. Bisa untuk teknologi. Bisa untuk produktivitas. Bahkan bisa dipake untuk iklan.

Artinya, satu foto punya banyak kemungkinan penggunaan. Nah, foto seperti inilah yang punya potensi nilai komersial lebih luas. Bukan berarti foto yang penggunaannya lebih spesifik pasti jelek. Tapi ketika memilih contoh karya untuk pendaftaran, mending tunjukkan karya yang memang bisa memperlihatkan kemampuan sekaligus punya kegunaan yang jelas.

Jangan Cuma Pilih Foto yang Paling Keren

Ini juga kesalahan yang cukup sering dilakukan. Kita biasanya memilih foto berdasarkan pertanyaan:

"Mana foto saya yang paling bagus?"

Padahal, untuk kebutuhan stock, coba ubah pertanyaannya menjadi:

"Mana foto yang paling bagus sekaligus paling berguna untuk pembeli?"

Hasilnya bisa berbeda. Foto yang paling artistik menurut kita belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk portfolio stock. Kadang foto yang sederhana justru lebih berguna. Misalnya foto tangan sedang menggunakan smartphone. Kelihatannya sederhana banget. Tapi foto seperti itu bisa digunakan untuk tema teknologi, komunikasi, aplikasi, internet, belanja online, bisnis, dan masih banyak lagi.

Coba Pelajari Koleksi iStock

Sebelum mendaftar, kawan-kawan juga bisa meluangkan waktu untuk melihat-lihat koleksi yang sudah ada di iStock. Perhatikan jenis foto yang mereka tampilkan. Lihat bagaimana pencahayaan digunakan. Perhatikan gaya fotografi lifestyle mereka. Lihat bagaimana model berpose. Perhatikan juga bagaimana sebuah foto dibuat supaya punya ruang untuk digunakan dalam berbagai desain.

Bukan berarti kita harus meniru karya orang lain. Bukan itu tujuannya. Kita hanya ingin memahami seperti apa jenis konten yang memang dibutuhkan oleh pasar stock.

Semakin sering melihat dan menganalisis karya stock yang bagus, biasanya kita juga semakin paham bagaimana membuat karya yang punya nilai komersial.

Prosesnya Dilakukan Lewat Website

Nah, satu hal yang perlu kawan-kawan tahu juga. Untuk proses contributor iStock/Getty Images, saat ini mending langsung menggunakan website melalui browser, karena mereka sudah tidak memiliki aplikasi di android maupun ios. Jadi nggak perlu bingung mencari aplikasi contributor Getty Images atau iStock di Play Store maupun App Store. Untuk mendaftar langsung saja buka lewat browser link berikut https://enroll.gettyimages.com/

Kalo mau mendaftar atau mengurus hal-hal yang berkaitan dengan contributor, gunakan website resmi mereka. Ini juga lebih aman karena kawan-kawan bisa langsung memastikan bahwa sedang berada di platform resmi, bukan aplikasi atau website pihak ketiga.

Ditolak Bukan Berarti Foto Kita Jelek

Ini penting banget. Kalo pendaftaran kalian ditolak, jangan langsung berpikir:

"Berarti saya nggak jago motret."

Belum tentu. Bisa aja foto kalian memang bagus, tapi belum cocok dengan kebutuhan mereka. Bisa juga contoh karya yang kalian kirim belum cukup menunjukkan kemampuan kalian. Atau pilihan fotonya kurang tepat. Jadi jangan langsung minder. Anggap aja proses pendaftaran ini sebagai seleksi portofolio.

Kalo Ditolak, Harus Gimana?

Jangan langsung buru-buru mencoba lagi dengan foto yang sama. Mending evaluasi dulu. Lihat kembali karya yang kalian kirim. Tanyakan kepada diri sendiri:

"Apa yang masih kurang dari portfolio saya?"

Coba buat karya baru. Coba tema yang berbeda. Perbaiki pencahayaan. Perbaiki komposisi. Buat foto yang punya penggunaan lebih luas. Dan yang nggak kalah penting, terus belajar memahami kebutuhan pasar stock.

Setelah portofolio terasa lebih kuat, baru coba lagi sesuai dengan ketentuan pendaftaran yang sedang berlaku.

Jangan Bandingkan dengan Shutterstock

Kalo kalian sudah diterima di Shutterstock atau Adobe Stock, jangan menganggap otomatis akan diterima juga di iStock. Setiap platform punya standar, kebutuhan, dan proses seleksi masing-masing.

Jadi kalo sebuah foto diterima di satu platform tapi ditolak di platform lain, itu bukan sesuatu yang aneh. Begitu juga sebaliknya. Bisa aja sebuah foto nggak terlalu bagus performanya di Shutterstock, tapi justru mendapatkan download di platform lain.

Itulah kenapa jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dari satu platform saja.




Share:

0 comments:

Posting Komentar

Labels