Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.
Buat kawan-kawan yang aktif di dunia microstock, mungkin belakangan ini pernah mendengar cerita tentang contributor Adobe Stock yang akunnya kena suspend atau bahkan ditutup. Hal seperti ini tentu bikin khawatir, apalagi kalo kita sudah bertahun-tahun membangun portfolio dan mengumpulkan banyak karya di dalam satu akun.
Terus muncul pertanyaan:
"Sebenarnya kenapa sih banyak contributor Adobe Stock yang kena banned?"
Jawabannya nggak selalu cuma satu. Ada berbagai macam kemungkinan pelanggaran yang bisa membuat sebuah akun mendapatkan tindakan dari Adobe Stock. Dan salah satu hal yang menurut saya perlu banget diperhatikan oleh contributor adalah masalah multiple account atau memiliki lebih dari satu akun contributor.
Punya Lebih dari Satu Akun Bisa Jadi Masalah
Buat yang belum tahu, jangan berpikir kalo punya beberapa akun contributor otomatis membuat kita bisa mendapatkan lebih banyak penghasilan. Justru sebaliknya, memiliki lebih dari satu akun bisa menjadi masalah.
Misalnya seseorang sudah punya satu akun Adobe Stock Contributor, kemudian membuat akun kedua dengan identitas atau informasi yang berbeda. Tujuannya bisa macam-macam. Ada yang ingin memisahkan portfolio, ingin mencoba strategi berbeda, atau mungkin ingin menghindari masalah pada akun sebelumnya.
Tapi kawan-kawan perlu hati-hati. Jangan menganggap membuat akun tambahan sebagai cara yang aman untuk memperbanyak akun dan penghasilan.
Untuk urusan seperti ini, selalu mending cek aturan resmi Adobe Stock sebelum membuat akun tambahan. Jangan cuma mengikuti pengalaman orang lain di grup atau media sosial.
Masalahnya Makin Rumit Kalau Akun Diperjualbelikan
Nah, ada satu hal lain yang menurut saya jauh lebih mengkhawatirkan, yaitu jual beli akun. Di internet kita bisa menemukan orang yang menawarkan akun Adobe Stock yang sudah memiliki portfolio, bahkan ada juga yang menjual akun yang sudah menghasilkan.
Buat orang yang ingin jalan pintas, tawaran seperti ini mungkin terlihat menarik.
"Ngapain mulai dari nol? Mending beli akun yang sudah ada."
Tapi cara seperti ini punya risiko yang sangat besar. Akun contributor berkaitan dengan identitas, informasi pembayaran, dan aktivitas pemilik akun. Jadi ketika sebuah akun berpindah tangan, akan ada banyak hal yang bisa menjadi masalah. Belum lagi kalo orang yang membeli akun tersebut kemudian melakukan aktivitas yang melanggar aturan.
Yang kena dampaknya bukan cuma karya yang bermasalah, tapi bisa saja akun secara keseluruhan mendapatkan tindakan.
Jangan Menganggap Akun Lama Berarti Aman
Ini juga penting. Ada orang yang berpikir:
"Kalau akun sudah lama dan sudah punya banyak download, berarti aman." Belum tentu. Lama atau besarnya sebuah portfolio nggak otomatis membuat akun kebal terhadap aturan. Kalo ada pelanggaran, tetap saja akun tersebut bisa mendapatkan tindakan sesuai kebijakan platform. Jadi jangan merasa aman hanya karena sudah punya ribuan karya atau sudah bertahun-tahun menjadi contributor.
Kenapa Jual Beli Akun Bisa Membahayakan Ekosistem Contributor?
Bayangkan kalo semakin banyak orang melakukan jual beli akun. Orang yang sebenarnya bukan pemilik asli akun bisa menggunakan identitas atau reputasi akun orang lain. Kemudian akun tersebut digunakan untuk aktivitas yang mungkin nggak sesuai dengan aturan.
Situasi seperti ini tentu bisa membuat platform semakin sulit membedakan mana contributor yang benar-benar serius dan mana akun yang memiliki aktivitas mencurigakan. Akibatnya, platform bisa menjadi semakin ketat dalam melakukan pemeriksaan. Dan yang terkena dampaknya bisa bukan cuma orang yang melakukan jual beli akun.
Contributor baru yang sebenarnya nggak melakukan kesalahan pun bisa ikut merasakan proses pendaftaran dan verifikasi yang semakin ketat.
Bisa Saja Pendaftaran Contributor Baru Semakin Ketat
Nah, ini yang menurut saya perlu menjadi perhatian kita semua. Kalo masalah multiple account dan jual beli akun semakin banyak, bukan nggak mungkin platform akan meningkatkan sistem verifikasi untuk contributor baru.
Misalnya proses pendaftaran menjadi lebih ketat. Informasi identitas bisa diperiksa lebih detail. Aktivitas akun baru bisa mendapatkan pengawasan lebih ketat. Dan proses untuk menjadi contributor bisa saja terasa lebih sulit dibandingkan sebelumnya.
Tapi perlu digarisbawahi, ini bukan berarti Adobe Stock sudah pasti akan memperketat pendaftaran atau membatasi contributor baru. Kita nggak bisa memastikan hal tersebut akan terjadi.
Tapi secara logika, kalo sebuah platform menemukan semakin banyak penyalahgunaan akun, mereka tentu punya alasan untuk memperkuat sistem keamanan dan verifikasi.
Jangan Cari Jalan Pintas
Buat kawan-kawan yang baru ingin mulai menjadi contributor Adobe Stock, mending jangan mencari jalan pintas. Nggak perlu membeli akun orang lain. Nggak perlu meminjam akun teman. Nggak perlu membuat banyak akun hanya karena ingin memperbesar peluang mendapatkan penghasilan.
Mending buat satu akun sendiri, gunakan identitas sendiri, upload karya sendiri, dan bangun portfolio secara perlahan. Memang terasa lebih lama. Tapi jauh lebih aman dibandingkan mengambil risiko dengan akun yang status kepemilikannya nggak jelas.
Contributor Lama Juga Harus Hati-Hati
Bukan cuma contributor baru yang harus memperhatikan masalah ini. Contributor lama juga sebaiknya mengecek kembali bagaimana kondisi akun mereka.
- Apakah pernah membuat akun tambahan?
- Apakah pernah menggunakan akun milik orang lain?
- Apakah pernah menjual atau membeli akun?
- Apakah informasi pembayaran dan identitas masih sesuai?
Kalo ada sesuatu yang nggak jelas, mending cari informasi dari sumber resmi Adobe Stock atau hubungi support mereka. Jangan mengambil keputusan cuma berdasarkan informasi dari grup Facebook, Telegram, WhatsApp, atau komentar media sosial.
Jangan Panik Gara-Gara Mendengar Ada yang Banned
Satu hal lagi yang perlu kita ingat. Kalo mendengar cerita contributor lain kena banned, jangan langsung menyimpulkan:
"Berarti Adobe Stock sekarang lagi membanned semua contributor."
Belum tentu. Kita nggak tahu kondisi sebenarnya dari akun tersebut, aktivitasnya, riwayat pelanggarannya, atau alasan yang diberikan oleh Adobe Stock. Jadi lebih baik kita berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Bedakan antara pengalaman pribadi seseorang dengan aturan resmi platform.
Yang Paling Penting: Patuhi Aturan
Pada akhirnya, menjadi contributor microstock itu bukan cuma soal membuat karya yang bagus. Kita juga harus memahami aturan platform tempat kita menjual karya. Jangan sampai karena ingin mendapatkan penghasilan lebih banyak, kita malah melakukan sesuatu yang justru membuat akun terkena masalah.
Apalagi kalo portfolio kita sudah besar. Bayangkan sudah menghabiskan bertahun-tahun membuat ribuan karya, kemudian akun bermasalah karena kita melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dihindari.
Nggak sebanding dengan risikonya.




0 comments:
Posting Komentar