Belajar mencari uang secara online

Cari artikel disini ...

Gimana Customer Menemukan Foto Kita di Shutterstock?



Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.

Pernah nggak kawan-kawan upload foto ke Shutterstock, kemudian bertanya-tanya:

"Sebenarnya customer bisa menemukan foto saya dari mana sih?"

Kita sudah upload foto. Sudah approved. Sudah masuk portfolio. Tapi setelah itu, kita cuma bisa menunggu sambil berharap ada yang download. 😅

Nah, sebenarnya ada proses di balik layar yang membuat foto kita bisa ditemukan oleh customer. Dan salah satu hal yang paling penting adalah metadata, terutama judul, deskripsi, dan keyword. Makanya, kalo sebelumnya kita pernah membahas apakah deskripsi dan keyword itu penting, jawabannya memang penting banget.

Karena kalo customer nggak bisa menemukan karya kita, sebagus apa pun fotonya, kemungkinan mendapatkan download juga jadi lebih kecil.

Customer Biasanya Mencari Berdasarkan Kebutuhan

Coba kita bayangkan posisi kita sebagai customer. Misalnya kita seorang designer dan sedang membuat desain tentang olahraga. Kita membutuhkan foto seorang pria sedang berlari. Kita kemudian membuka Shutterstock dan mengetik: "man running"

Shutterstock akan menampilkan berbagai karya yang dianggap relevan dengan pencarian tersebut. Nah, di sinilah foto kita punya kesempatan untuk muncul. Kalo foto kita memang menggambarkan seorang pria sedang berlari dan metadata-nya juga sesuai, kemungkinan foto tersebut bisa ditemukan oleh customer.

Jadi customer nggak perlu tahu siapa kita. Mereka juga nggak perlu tahu nama contributor. Mereka cukup mencari berdasarkan apa yang mereka butuhkan.




Keyword Membantu Foto Kita Ditemukan

Ini alasan kenapa keyword sangat penting. Misalnya kita punya foto seorang perempuan sedang bekerja menggunakan laptop di rumah. Kita bisa menggunakan keyword yang memang menggambarkan isi foto tersebut, misalnya:

woman, laptop, working, home, work from home, computer, office, business, remote work

Ketika customer melakukan pencarian menggunakan kata-kata yang relevan, metadata tersebut membantu Shutterstock memahami isi karya kita. Tapi bukan berarti kita harus memasukkan sebanyak-banyaknya keyword. Keyword harus relevan dengan isi foto.

Jangan memasukkan kata yang nggak ada hubungannya cuma karena kata tersebut populer. Misalnya foto kita adalah orang sedang bekerja di rumah, kemudian kita memasukkan: mountain, beach, airplane, food, football. Padahal semuanya nggak ada dalam foto. Jangan.

Mending keyword sedikit tapi relevan daripada banyak tapi asal.


Judul/deskripsi Juga Membantu Menjelaskan Foto

Selain keyword, ada juga judul/deskripsi. Sebaiknya menjelaskan isi foto dengan jelas. Misalnya jangan cuma menulis: "Woman"

Kalo fotonya menunjukkan seorang perempuan sedang bekerja menggunakan laptop di rumah, judul yang lebih informatif bisa seperti:

"Young woman working remotely on a laptop at home while sitting at a desk in a bright room"

Dari judul/deskripsi tersebut, customer langsung mendapatkan gambaran tentang isi fotonya. Jadi ketika membuat judul/deskripsi, coba pikirkan:

"Kalau orang melihat tulisan ini tanpa melihat fotonya, apakah mereka bisa membayangkan isi fotonya?"

Kalo jawabannya iya, berarti judul kita sudah cukup jelas.


Shutterstock Menghubungkan Pencarian dengan Karya yang Relevan

Sekarang coba bayangkan Shutterstock punya jutaan karya. Customer mengetik sesuatu di kolom pencarian. Shutterstock tentu harus memilih karya mana yang paling relevan untuk ditampilkan.

Nah, metadata membantu sistem memahami:

"Foto ini sebenarnya tentang apa?"

Makanya kita sebagai contributor perlu memberikan informasi yang akurat. Foto tentang makanan ya jelaskan makanan. Foto tentang bisnis ya gunakan istilah yang berhubungan dengan bisnis. Foto tentang olahraga ya gunakan keyword yang berhubungan dengan olahraga.

Jangan bikin Shutterstock bingung. 😄


Foto Bagus Tapi Keyword-nya Salah Bisa Susah Ditemukan

Ini salah satu kesalahan yang sering dilakukan contributor baru. Fotografinya bagus. Kualitasnya bagus. Komposisinya bagus. Tapi keyword-nya asal. Akibatnya, ketika customer mencari sesuatu yang sebenarnya sesuai dengan foto kita, karya kita bisa kehilangan kesempatan untuk ditemukan.

Bayangkan kita punya foto:

kopi di atas meja kayu dengan ruang kosong di sebelahnya.

Foto seperti ini bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan desain. Tapi kalo keyword kita cuma:

coffee, drink

kita mungkin kehilangan beberapa konteks yang sebenarnya relevan. Misalnya:

wooden table, copy space, cafe, beverage, morning, workspace, background

Tentu saja keyword harus disesuaikan dengan apa yang benar-benar terlihat dalam foto.


Jangan Memasukkan Keyword yang Nggak Ada di Foto

Nah, ini kebalikannya. Karena ingin mendapatkan lebih banyak pencarian, ada contributor yang memasukkan keyword sebanyak-banyaknya. Padahal nggak relevan. Misalnya foto kucing. Kemudian keyword-nya:

dog, horse, car, business, technology, travel

😂

Jangan seperti itu.

Customer yang mencari sesuatu berdasarkan keyword tertentu berharap mendapatkan hasil yang relevan. Kalo metadata kita nggak sesuai dengan isi foto, justru bisa membuat pengalaman pencarian menjadi buruk. Jadi prinsipnya sederhana:

Masukkan keyword yang memang menggambarkan karya kita.


Customer Nggak Selalu Mencari dengan Kata yang Sama

Ini juga menarik. Misalnya kita punya foto orang yang sedang menggunakan laptop.

  • Customer pertama mungkin mencari:
    • "person working laptop"
  • Customer kedua mencari:
    • "remote work"
  • Customer ketiga:
    • "work from home"
  • Customer keempat:
    • "freelancer laptop"
  • Customer kelima:
    • "home office"

Foto yang sama sebenarnya bisa relevan dengan beberapa kebutuhan pencarian. Makanya kita perlu memahami konteks foto, bukan cuma menyebutkan objek yang terlihat.

Bukan cuma:

woman, laptop, desk

Tapi bisa juga mencakup konsep yang memang terlihat atau dapat direpresentasikan oleh foto tersebut, seperti:

remote work, online work, home office, business, productivity

Tentu selama memang sesuai dengan isi dan konteks foto.


Copy Space Juga Bisa Menjadi Nilai Tambah

Misalnya kita membuat foto botol minuman. Ada dua versi.

  • Foto pertama objek memenuhi seluruh frame.
  • Foto kedua punya ruang kosong yang cukup luas di sebelah objek.

Bagi designer, foto kedua mungkin lebih fleksibel. Kenapa? Karena ruang kosong tersebut bisa digunakan untuk menambahkan:

teks, headline, harga, logo, atau elemen desain lainnya.

Kita bisa menjelaskan konsep tersebut dalam metadata jika memang benar-benar terlihat. Misalnya:

copy space, background, advertising, banner

Sekali lagi, jangan memasukkan keyword hanya karena ingin mengejar pencarian. Harus sesuai dengan karya.


Jangan Lupa Memikirkan Customer

Nah, mulai sekarang coba ubah cara berpikir. Jangan cuma bertanya:

"Saya mau motret apa hari ini?"

Tapi sesekali tanyakan:

"Customer kira-kira membutuhkan foto seperti apa?"

Misalnya kita melihat meja kosong. Daripada cuma memotret meja, kita bisa berpikir:

"Ini bisa dijadikan konsep workspace nggak?"

Kemudian tambahkan laptop, notebook, kopi, dan properti sederhana lainnya. Atau misalnya kita sedang memasak. Jangan cuma memotret makanan yang sudah jadi.

Kita bisa membuat beberapa konsep:

  • Bahan makanan
  • Proses memasak
  • Tangan sedang memotong
  • Peralatan dapur
  • Makanan siap disajikan
  • Foto dengan copy space

Dengan begitu, kita nggak cuma membuat foto yang bagus. Kita juga membuat foto yang punya kemungkinan penggunaan.


Jadi Apakah Keyword Menjamin Foto Kita Laku?

Nggak. Ini juga perlu diluruskan. Keyword dan metadata yang bagus nggak menjamin foto pasti mendapatkan download. Metadata hanya membantu karya kita lebih mudah dipahami dan ditemukan berdasarkan pencarian yang relevan. Masih ada banyak faktor lainnya. Misalnya:

  • Apakah foto tersebut memang dibutuhkan?
  • Seberapa tinggi persaingannya?
  • Seberapa menarik fotonya?
  • Apakah konsepnya sesuai kebutuhan customer?
  • Apakah kualitas teknisnya bagus?
  • Apakah customer akhirnya memilih foto kita?

Jadi jangan berpikir:

"Keyword sudah benar, berarti pasti laku."

Nggak begitu. Tapi setidaknya kita sudah memberikan kesempatan yang lebih baik agar karya tersebut bisa ditemukan.


Jangan Lupa, Foto Kita Bersaing dengan Banyak Contributor

Kawan-kawan juga perlu ingat. Ketika customer mengetik:

"business woman laptop"

yang muncul bukan cuma foto kita. Ada banyak sekali karya dari contributor lain. Artinya kita bukan cuma berusaha supaya foto kita ditemukan. Kita juga harus membuat foto yang menarik ketika sudah ditemukan. Jadi ada dua tahap:

  • Pertama → foto kita harus punya peluang untuk muncul dalam pencarian.
  • Kedua → ketika muncul, fotonya harus cukup menarik sehingga customer memilihnya.

Makanya metadata dan kualitas karya sebenarnya saling melengkapi.


Jangan Asal Copy Keyword dari Foto Lain

Kalo kawan-kawan menemukan foto yang mirip dengan karya kita, jangan langsung menyalin seluruh keyword-nya. Kenapa? Karena belum tentu semua keyword tersebut sesuai dengan foto kita. Lebih baik gunakan foto tersebut sebagai referensi untuk memahami cara berpikirnya.

  • Lihat objeknya.
  • Lihat konteksnya.
  • Lihat konsepnya.

Kemudian buat metadata sendiri berdasarkan karya kita.



Share:

0 comments:

Posting Komentar