Belajar mencari uang secara online

Cari artikel disini ...

5 saran untuk microstokcer pemula

Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.

Buat kamu yang baru mau terjun ke dunia microstock, mungkin sekarang lagi banyak banget pertanyaan di kepala.

  • "Harus mulai dari mana?"
  • "Upload apa?"
  • "Foto saya bagus nggak ya?"
  • "Berapa banyak desain yang harus diupload?"
  • "Emang bisa menghasilkan uang?"
  • Dan masih banyak lagi.

Saya sendiri dulu juga pernah ada di posisi seperti itu. Waktu pertama kali kenal microstock, rasanya pengen langsung upload sebanyak-banyaknya dan berharap segera dapat banyak dollar. Tapi setelah dijalani, ternyata microstock nggak sesederhana itu.

Ada proses belajar yang harus dilewati, ada karya yang ditolak, ada masa di mana penjualan sepi, bahkan kadang kita bisa merasa males karena sudah upload banyak tapi hasilnya belum kelihatan. Nah, buat kawan-kawan yang baru mulai, kali ini saya mau kasih 5 saran untuk microstocker pemula.

Bukan tips supaya kaya mendadak, tapi lebih ke hal-hal yang menurut saya penting supaya kamu nggak salah mindset sejak awal.

1. Jangan Terlalu Fokus Mengejar Uang di Awal

Ini mungkin saran yang paling penting. Kalo baru mulai microstock, jangan langsung berpikir:

"Bulan depan harus dapat $100!"

Apalagi baru punya 10 atau 20 karya. Bisa saja terjadi, tapi jangan menjadikan angka tersebut sebagai patokan utama. Microstock itu lebih mirip seperti membangun koleksi aset digital. Kamu membuat karya hari ini. Upload. Kemudian karya tersebut bisa terus berada di marketplace dan berpotensi menghasilkan download di kemudian hari.

Makanya di awal, mending fokus dulu ke:

Belajar → upload → evaluasi → upload lagi.

Jangan terlalu stres melihat earning yang masih $0.00. Karena hampir semua microstocker pernah melewati fase tersebut. Yang penting kamu mulai membangun portfolio. Semakin lama, portfolio kamu bisa semakin banyak. Dan dari situ kamu bisa mulai melihat pola:

  • "Foto seperti ini ternyata ada yang download."
  • "Desain seperti ini ternyata nggak laku."
  • "Keyword saya kurang bagus."
  • "Foto outdoor ternyata lebih banyak yang menghasilkan."

Dari pengalaman seperti itulah kita belajar.

2. Jangan Takut Ditolak

Buat microstocker pemula, rejection biasanya menjadi salah satu hal yang cukup bikin mental turun. Sudah capek-capek foto. Sudah edit. Sudah bikin metadata. Sudah upload. Eh... REJECTED. ðŸ˜…

Rasanya memang ngeselin. Tapi jangan langsung menganggap karya kamu jelek. Ditolak di microstock itu hal yang biasa. Bahkan contributor yang sudah lama juga masih bisa mendapatkan rejection. Yang perlu dilakukan adalah melihat alasan penolakannya.

Misalnya karena:

  • Technical issue
  • Fokus kurang
  • Noise
  • Exposure
  • Composition
  • Quality
  • Similar content
  • Masalah metadata
  • Atau alasan lainnya

Dari situ kita bisa belajar. Misalnya banyak foto kamu ditolak karena technical issue. Berarti mungkin ada yang perlu diperbaiki dari cara mengambil foto atau proses editing. Kalo sering ditolak karena similar content, mungkin kamu terlalu banyak mengupload foto yang sebenarnya hampir sama.

Jadi jangan melihat rejection sebagai:

"Saya nggak berbakat jadi microstocker."

Tapi coba lihat sebagai:

"Oke, berarti saya harus belajar bagian ini."

Lama-lama kamu akan semakin memahami standar marketplace.

3. Jangan Cuma Upload, Tapi Pelajari Apa yang Kamu Upload

Ini kesalahan yang cukup sering dilakukan pemula.

Punya kamera → foto →Edit → upload. Besok foto lagi → upload lagi. Terus begitu....

Padahal microstock bukan cuma masalah berapa banyak file yang kita upload. Kita juga perlu memahami: Kenapa orang mau membeli atau mendownload karya kita?

Misalnya kamu memotret sebuah meja dengan laptop, kopi, dan notebook. Coba pikirkan:

  • Foto seperti ini bisa digunakan untuk apa?
  • Bisa untuk artikel tentang kerja dari rumah.
  • Bisa untuk website freelancer.
  • Bisa untuk artikel produktivitas.
  • Bisa untuk iklan software.
  • Bisa untuk konten bisnis.

Nah, dari situ kamu mulai belajar melihat foto bukan cuma sebagai "foto bagus", tapi sebagai aset yang punya kegunaan komersial. Begitu juga dengan vector dan illustration.

Jangan cuma bertanya:

"Bagus nggak desain saya?"

Tapi juga:

"Desain ini kira-kira bisa digunakan untuk apa?"

Semakin kamu terbiasa berpikir seperti itu, biasanya ide untuk membuat stock content juga akan semakin banyak.

4. Pelajari Metadata dan Keyword

Kalo baru mulai microstock, jangan menganggap metadata cuma formalitas. Metadata sangat penting karena membantu pembeli menemukan karya kita. Bayangkan kamu punya foto yang sebenarnya bagus dan sangat dibutuhkan orang. Tapi keyword-nya nggak nyambung seperti memasukkan keyword yang terlalu umum dan nggak relevan. Akhirnya foto kamu susah ditemukan. Makanya belajar membuat title, description, dan keyword itu penting. Tapi ada satu hal yang juga harus diperhatikan: Jangan asal memasukkan keyword sebanyak-banyaknya.

Keyword harus relevan dengan karya. Jangan memasukkan kata yang sebenarnya nggak berhubungan hanya karena menurut kamu keyword tersebut populer. Selain bisa membuat metadata menjadi buruk, hal seperti ini juga bisa melanggar aturan platform tertentu.

Jadi mending belajar membuat metadata yang: Relevan + spesifik + menggambarkan isi karya. Dan jangan lupa, tiap marketplace bisa mempunyai aturan metadata yang berbeda. Jadi kalo kamu upload ke beberapa platform, jangan selalu menganggap aturan satu platform sama persis dengan platform lainnya.

5. Konsisten, Tapi Jangan Sampai Membenci Microstock

Nah, ini yang terakhir dan menurut saya juga penting. KONSISTEN.

Microstock memang membutuhkan banyak karya. Tapi konsisten bukan berarti kamu harus memaksa diri upload 100 file setiap hari. Nggak perlu.

Kalo kemampuan kamu sekarang baru sanggup membuat 5 karya seminggu, ya mulai dari 5. Yang penting terus berjalan.  Intinya adalah punya ritme yang bisa kamu pertahankan dalam jangka panjang.

Karena percuma semangat banget selama satu minggu, upload 200 file, kemudian bulan berikutnya nggak upload sama sekali karena sudah capek. Mending sedikit tapi rutin. Daripada banyak tapi cuma sebentar. Dan satu lagi...

Jangan sampai kamu membenci microstock. Kalo setiap hari kamu merasa terpaksa membuat karya hanya demi mengejar jumlah upload, lama-lama bisa burnout.

Coba cari jenis karya yang memang kamu suka. Kamu suka fotografi? Fokus eksplor fotografi. Suka vector? Bikin vector. Suka video? Coba stock footage. Suka desain? Eksplor illustration dan graphic assets.

Microstock itu bisa menjadi perjalanan yang cukup panjang. Jadi mending cari cara supaya perjalanan tersebut tetap menyenangkan.

Bonus: Jangan Membandingkan Portfolio Kamu dengan Contributor Lain

Ini sebenarnya bukan salah satu dari 5 poin utama, tapi menurut saya penting banget buat pemula. Kadang kita melihat contributor lain. Portfolio-nya 10.000 file. Penghasilannya sudah ribuan dollar. Download-nya banyak. Kemudian kita melihat portfolio sendiri: 100 file. Download: Beberapa.

Akhirnya langsung merasa: "Kayaknya saya nggak akan bisa."

Padahal kita nggak tahu berapa tahun mereka sudah menjalani microstock. Jangan membandingkan awal perjalanan kita dengan tengah atau akhir perjalanan orang lain. Mending bandingkan diri kamu sekarang dengan diri kamu 6 bulan lalu.

  • Dulu nggak ngerti metadata. Sekarang sudah ngerti.
  • Dulu sering kena rejection. Sekarang sudah lebih jarang.
  • Dulu cuma punya 20 karya. Sekarang sudah punya 200.

Nah, itu perkembangan..... Dan perkembangan kecil seperti itu yang harus dihargai.

Jangan Berharap Semua Karya Akan Laku

Satu hal lagi yang perlu kamu pahami sejak awal:

Nggak semua karya akan menghasilkan uang. Bahkan mungkin dari 100 karya yang kamu upload, cuma beberapa yang ternyata rutin mendapatkan download. Dan itu normal.

Dalam microstock, kita nggak pernah tahu persis karya mana yang nantinya akan menjadi "bintang". Kadang kita membuat karya yang menurut kita biasa saja, ternyata justru sering didownload. Sementara karya yang menurut kita paling keren malah nggak pernah menghasilkan apa-apa. Karena itu, jangan terlalu cepat menghapus atau menyerah hanya karena satu karya belum laku.

Selama masih memenuhi aturan platform dan masih layak berada di portfolio, biarkan saja. Siapa tahu suatu hari ada yang membutuhkan.



Share:

0 comments:

Posting Komentar