Belajar mencari uang secara online

Cari artikel disini ...

Keyword Shutterstock Sebaiknya Banyak atau Sedikit?



Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.

Buat kawan-kawan yang baru mulai upload karya ke Shutterstock, mungkin pernah bingung waktu sampai di bagian Keywords.

"Ini keyword-nya harus diisi sebanyak mungkin nggak?"

"Kalau saya isi sampai puluhan keyword, apakah kemungkinan foto ditemukan customer jadi lebih besar?"

Atau malah ada yang berpikir:

"Yang penting 50 keyword penuh, beres!"

Nah, ternyata urusannya nggak sesederhana itu. Keyword memang penting, tapi bukan berarti semakin banyak keyword otomatis semakin bagus. Yang jauh lebih penting adalah keyword yang kita masukkan harus relevan dengan karya yang kita upload.

Kenapa Keyword Penting?

Coba bayangkan Shutterstock seperti mesin pencarian yang sangat besar. Ada customer yang sedang mencari foto tertentu. Mereka mengetik kata-kata yang berhubungan dengan apa yang mereka butuhkan. Misalnya seorang designer sedang mencari foto kopi di atas meja kayu. Dia bisa saja mengetik:

coffee, wooden table, beverage, cafe

Nah, kalo foto kita memang menggambarkan hal tersebut dan kita menggunakan keyword yang relevan, karya kita punya kesempatan untuk muncul dalam hasil pencarian.

Makanya keyword bukan sekadar kolom yang harus kita isi sebelum klik submit. Keyword adalah salah satu cara untuk membantu Shutterstock memahami isi karya kita.


Jadi Harus Isi Banyak Keyword?

Jawabannya:

Nggak harus.

Kita nggak perlu berpikir:

"Semakin banyak keyword, semakin besar peluang dapat download."

Yang lebih penting adalah ketepatan keyword. Misalnya kita punya foto sebuah apel merah di atas background putih. Keyword yang relevan bisa saja:

apple, red apple, fruit, fresh, food, healthy, isolated, white background, nutrition

Jumlahnya nggak perlu dipaksakan sampai penuh kalo memang nggak ada kata lain yang benar-benar relevan. Mending punya keyword yang semuanya berhubungan dengan foto daripada punya banyak keyword tapi sebagian cuma asal memasukkan kata populer.




Jangan Memasukkan Keyword yang Nggak Ada Hubungannya

Ini yang harus dihindari. Misalnya kita punya foto secangkir kopi. Kemudian kita berpikir:

"Ah, sekalian aja masukkan keyword beach, mountain, airplane, business, car. Siapa tahu nanti muncul di pencarian."

Jangan, kawan-kawan. 😂 Kalo nggak ada hubungannya dengan foto, ya nggak perlu dimasukkan. Keyword sebaiknya menggambarkan apa yang memang terlihat atau konsep yang memang relevan dengan karya tersebut.

Jangan mencoba memancing pencarian dengan keyword yang nggak berhubungan. Karena tujuan kita bukan sekadar mendapatkan foto kita muncul di pencarian. Kita ingin foto tersebut muncul di pencarian yang memang sesuai dengan kebutuhan customer.


Keyword Sedikit Tapi Tepat Bisa Lebih Baik

Misalnya kita punya foto: Laptop di atas meja kayu dengan secangkir kopi.

Kita bisa menggunakan keyword yang memang menggambarkan isi foto tersebut. Misalnya:

laptop, computer, coffee, desk, wooden table, workspace, technology, work, office, home office

Nah, itu sudah cukup memberikan gambaran mengenai isi foto. Kita nggak perlu memaksakan sampai puluhan keyword tambahan yang sebenarnya nggak ada hubungannya. Karena setiap keyword seharusnya punya alasan kenapa kita memasukkannya.

Coba biasakan bertanya:

"Kata ini benar-benar menggambarkan foto saya nggak?"

Kalo jawabannya nggak, mending jangan dimasukkan.


Tapi Jangan Terlalu Sedikit Juga

Nah, ini kebalikannya. Karena takut keyword salah, jangan sampai kita cuma memasukkan 2 atau 3 keyword. Misalnya foto wanita sedang bekerja menggunakan laptop. Kemudian keyword-nya cuma:

woman, laptop, work

Sebenarnya masih banyak informasi yang mungkin relevan. Misalnya:

working, computer, office, home, remote work, technology, business, freelancer, workspace

Tentunya semua harus disesuaikan dengan foto. Jadi prinsipnya bukan:

"Keyword sedikit lebih baik."

Tapi:

"Keyword yang relevan lebih baik."

Mau 10, 20, 30, atau lebih, nggak masalah selama memang relevan dengan karya dan sesuai aturan Shutterstock.


Pikirkan Keyword dari Sudut Pandang Customer

Ini trik yang cukup berguna. Setelah selesai membuat foto, coba jangan cuma melihatnya sebagai fotografer. Coba bayangkan kita adalah customer. Misalnya ada foto seorang ibu sedang memasak di dapur. Customer mungkin membutuhkan foto tersebut untuk artikel tentang:

  • Cooking
  • Family
  • Food
  • Kitchen
  • Healthy lifestyle
  • Home
  • Motherhood

Nah, dari sini kita bisa mulai memahami berbagai konteks yang memang terlihat atau relevan dengan foto.

Jadi jangan cuma berpikir:

"Ini foto ibu."

Tapi pikirkan juga:

"Foto ini bisa digunakan untuk kebutuhan apa?"

Dengan begitu, kita bisa menemukan keyword yang lebih tepat.


Bedakan Objek dan Konsep

Keyword nggak harus selalu berupa benda yang terlihat. Misalnya ada foto seseorang sedang bekerja menggunakan laptop.

Objek yang terlihat mungkin:

person, laptop, desk, chair

Tapi ada juga konsep yang bisa terlihat dari foto tersebut:

work, business, remote work, productivity, technology

Tentu konsep tersebut harus memang masuk akal berdasarkan isi foto.

Jadi jangan cuma memikirkan:

"Apa saja benda yang ada di foto?"

Tapi pikirkan juga:

"Foto ini menggambarkan aktivitas atau konsep apa?"

Ini bisa membantu kita membuat keyword yang lebih lengkap.


Jangan Memasukkan Semua Kata yang Terlintas di Kepala

Kadang-kadang saat mengisi keyword, kita jadi terlalu semangat. Lihat foto. Kepikiran satu kata. Masukkan. Kepikiran kata lain. Masukkan lagi. Sampai akhirnya keyword-nya banyak banget. 😂

Padahal beberapa kata sebenarnya cuma memiliki hubungan yang sangat jauh dengan foto. Mending kita berhenti sebentar dan mengecek satu per satu.

Apakah keyword ini benar-benar relevan?

Kalo iya, lanjut. Kalo nggak, hapus. Dengan cara ini, metadata kita jadi lebih bersih dan terarah.


Jangan Memasukkan Merek Kalau Nggak Perlu

Ini juga perlu diperhatikan. Misalnya kita memotret laptop atau smartphone. Kalo ada logo atau brand tertentu yang terlihat, masalahnya bukan cuma soal keyword. Kita juga perlu memperhatikan aturan mengenai trademark dan intellectual property.

Jadi jangan sembarangan memasukkan nama brand ke dalam keyword hanya karena bentuk barangnya mirip dengan produk tersebut. Misalnya kita memotret smartphone generik dan kemudian memasukkan nama brand tertentu padahal produknya bukan brand tersebut.

Jangan.

Keyword harus sesuai dengan karya yang kita upload.


Keyword Bukan Jaminan Foto Akan Laku

Ini juga penting banget. Kadang ada yang berpikir:

"Saya sudah menggunakan keyword yang bagus, kok belum ada download?"

Perlu diingat, keyword hanya membantu karya kita ditemukan. Setelah ditemukan, masih ada banyak faktor lain yang menentukan apakah customer akan memilih karya kita atau nggak. Misalnya:

  • Kualitas foto
  • Komposisi
  • Konsep
  • Kebutuhan customer
  • Persaingan dengan karya lain
  • Harga atau jenis lisensi
  • Tren
  • Dan masih banyak faktor lainnya

Jadi keyword yang bagus bukan berarti foto kita otomatis laku. Tapi keyword yang buruk bisa membuat karya yang sebenarnya bagus menjadi lebih sulit ditemukan.




Jangan Cuma Mengandalkan Keyword

Misalnya kita punya foto yang sangat bagus. Pencahayaannya bagus. Komposisinya bagus. Konsepnya menarik. Tapi keyword-nya asal-asalan. Karya tersebut bisa kehilangan peluang untuk ditemukan oleh customer yang memang membutuhkannya.

Sebaliknya, jangan juga berpikir:

"Saya nggak perlu bikin foto bagus, yang penting keyword-nya bagus."

Nggak begitu juga. 😅 Kita tetap membutuhkan kombinasi:

Karya yang bagus + metadata yang tepat.

Keduanya saling melengkapi.


Coba Buat Keyword Setelah Memahami Foto

Salah satu kebiasaan yang bisa kita coba adalah jangan langsung mengisi keyword sambil asal mengetik. Setelah foto selesai, lihat dulu hasilnya.

  • Perhatikan objek utama.
  • Perhatikan aktivitas.
  • Perhatikan background.
  • Perhatikan suasana.
  • Perhatikan konsepnya.

Kemudian mulai susun keyword dari yang paling penting. Misalnya foto seorang pria sedang mengetik laptop di rumah. Mulai dari keyword utama:

man, laptop, working

Kemudian tambahkan konteks:

home, remote work, workspace

Kemudian konsep:

business, technology, office, productivity

Dengan cara seperti ini, keyword kita biasanya lebih terarah.


Jadi, Keyword Shutterstock Sebaiknya Banyak atau Sedikit?

Kalo harus memilih antara banyak atau sedikit, sebenarnya pertanyaannya kurang tepat. Yang lebih tepat adalah:

"Seberapa banyak keyword yang benar-benar relevan dengan karya saya?"

Nah, itu jawabannya. Kalo foto kita memang memiliki banyak konsep dan objek yang relevan, keyword bisa lebih banyak. Kalo fotonya sederhana, keyword-nya mungkin juga nggak perlu terlalu banyak.

Jadi jangan mengejar jumlah. Kejar relevansi.

Share:

0 comments:

Posting Komentar