Belajar mencari uang secara online

Cari artikel disini ...

Kenapa Shutterstock Menolak Foto yang Menurut Kita Sudah Bagus?



Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.

Pernah nggak kawan-kawan mengalami hal seperti ini?

  • Kita motret dengan susah payah.
  • Cahaya sudah bagus.
  • Komposisi sudah kita atur.
  • Objeknya juga menarik.
  • Setelah diedit, hasilnya menurut kita bagus banget.

Dengan penuh percaya diri akhirnya diupload ke Shutterstock. Beberapa hari kemudian... Rejected. 😭 Langsung muncul pertanyaan: "Lho, kok ditolak? Foto saya kan bagus?" Nah, ini yang sering bikin contributor pemula bingung. Tapi sebenarnya ada satu hal penting yang perlu kita pahami:

Foto yang bagus menurut kita belum tentu memenuhi kebutuhan dan standar Shutterstock.

Kenapa begitu? Yuk kita bahas......

Foto Bagus Belum Tentu Cocok untuk Microstock

Pertama, kita perlu membedakan antara foto bagus dan foto yang layak dijual sebagai stock. Foto bagus bisa berarti:

  • Komposisinya menarik
  • Warnanya enak dilihat
  • Momennya bagus
  • Secara fotografi terlihat keren

Tapi microstock punya pertimbangan lain. Foto tersebut harus punya kualitas teknis yang baik, nggak bermasalah secara legal, dan tentunya harus memenuhi standar Shutterstock. Jadi jangan heran kalo foto yang menurut kita keren ternyata tetap ditolak. Bukan berarti foto kita jelek. Bisa jadi memang nggak memenuhi salah satu persyaratan yang mereka cari.


1. Ada Masalah Noise atau Grain

Ini salah satu alasan yang cukup umum. Kadang kalo melihat foto di layar HP, noise hampir nggak kelihatan. Foto terlihat bersih dan bagus. Tapi ketika diperbesar sampai 100%, baru kelihatan: "Wah, ternyata banyak noise-nya." 😅

Noise bisa muncul karena kita memotret dalam kondisi kurang cahaya atau menggunakan ISO yang terlalu tinggi. Shutterstock memperhatikan kualitas teknis file. Jadi sebelum upload, coba periksa foto dalam ukuran 100%. Jangan cuma melihat dari tampilan thumbnail.


2. Foto Sedikit Blur

Ini juga sering terjadi. Foto terlihat tajam ketika dilihat sekilas. Tapi ketika diperbesar, ternyata detailnya agak lembut atau blur. Bisa disebabkan oleh:

  • Shutter speed terlalu rendah
  • Tangan bergerak
  • Objek bergerak
  • Fokus meleset
  • Lensa kurang optimal

Kadang kita merasa: "Ah, blur sedikit nggak masalah." Tapi untuk microstock, detail kecil seperti ini bisa menjadi alasan karya nggak diterima. Jadi sebelum upload, coba zoom foto sampai 100%. Lihat bagian pentingnya. Apakah benar-benar tajam?


3. Terlalu Banyak Editing

Editing memang boleh. Tapi jangan sampai berlebihan. Misalnya kita menaikkan:

  • Saturation +100
  • Clarity +100
  • Sharpening +100 

Hasilnya mungkin terlihat keren di Instagram. Tapi belum tentu cocok untuk microstock. Editing yang terlalu ekstrem bisa membuat warna terlihat nggak natural, muncul artefak, atau detail foto menjadi rusak.

Mending edit secukupnya. Tujuannya bukan membuat foto terlihat super heboh. Tapi membuat foto terlihat bersih, natural, dan siap digunakan.


4. Ada Artefak Editing

Nah, ini berbeda dengan noise. Artefak adalah semacam kerusakan atau ketidaksempurnaan yang muncul akibat proses editing atau pemrosesan gambar. Misalnya:

  • Halo di sekitar objek
  • Bekas cloning
  • Tekstur aneh
  • Detail yang terlihat seperti dicat
  • Sharpening berlebihan
  • Bagian foto yang terlihat nggak natural

Kadang di layar kecil nggak kelihatan. Tapi ketika diperbesar, baru ketahuan. Makanya selalu lakukan pemeriksaan akhir sebelum upload.


5. Komposisinya Bagus, Tapi Terlalu Banyak Hal yang Mengganggu

Kita mungkin merasa sebuah foto sudah bagus karena objek utamanya menarik. Tapi coba lihat background-nya.

  • Ada kabel?
  • Ada sampah?
  • Ada orang yang nggak sengaja masuk frame?
  • Ada benda aneh di belakang objek?
  • Ada tulisan atau elemen yang mengganggu?

Hal-hal kecil seperti ini bisa mengurangi kualitas sebuah stock photo. Kalo memungkinkan, bersihkan dulu sebelum mengambil foto. Jangan berharap semuanya bisa dibereskan menggunakan Photoshop.


6. Ada Logo atau Brand yang Terlihat

Nah, ini juga penting banget untuk dipahami.

  • Misalnya kita memotret: botol minuman Ternyata logo brand terlihat jelas.
  • Atau memotret: laptop dan logo produsennya terlihat.
  • Atau: mobil dengan emblem brand yang sangat jelas.

Untuk penggunaan komersial, keberadaan trademark, logo, atau brand yang terlihat jelas bisa menjadi masalah. Makanya banyak contributor melakukan brand removal atau memilih angle yang membuat logo nggak terlihat.

Tapi jangan asal menghapus logo menggunakan editing kalo hasil akhirnya justru meninggalkan artefak. Lebih mending dari awal memotret dengan kondisi yang lebih aman.


7. Ada Orang yang Bisa Dikenali

Misalnya kita memotret seseorang di tempat umum. Wajahnya terlihat jelas dan orang tersebut bisa dikenali. Untuk penggunaan commercial, biasanya diperlukan model release.

Jadi walaupun fotonya bagus, bisa saja ada masalah dari sisi penggunaan komersial. Ini juga alasan kenapa foto yang terlihat sederhana tetap perlu diperhatikan dari sisi legal.

  • Bukan cuma soal: "Bagus nggak fotonya?"
  • Tapi juga: "Boleh nggak foto ini digunakan secara komersial?"


8. Ada Property yang Membutuhkan Perhatian

Bukan cuma manusia yang perlu diperhatikan. Ada juga properti tertentu yang bisa menimbulkan masalah. Misalnya kita memotret:

  • Interior rumah
  • Bangunan tertentu
  • Karya seni
  • Properti pribadi
  • Desain yang memiliki hak tertentu

Jadi sebelum upload, coba perhatikan apakah ada elemen yang bisa menimbulkan masalah hak penggunaan. Ini terutama penting kalo kita ingin menjual foto sebagai commercial content.


9. Foto Terlalu Mirip dengan Foto Lain

Nah, ini sering dilakukan contributor tanpa sadar. Misalnya kita pergi ke sebuah taman. Kita mengambil 50 foto dari posisi yang hampir sama. Kemudian semuanya diupload. Padahal perbedaannya cuma:

  • Kepala sedikit ke kiri.
  • Kepala sedikit ke kanan.
  • Yang satu zoom sedikit.

Menurut kita semuanya bagus. Tapi dari sudut pandang stock, karya-karya tersebut bisa dianggap terlalu mirip atau redundant. Mending pilih beberapa foto terbaik saja.

Daripada upload puluhan foto yang hampir sama, lebih bagus kita punya beberapa foto dengan variasi konsep, angle, komposisi, atau penggunaan yang benar-benar berbeda.


10. Resolusi atau Kualitas File Bermasalah

Jangan lupa bahwa file yang kita upload juga harus memenuhi persyaratan teknis Shutterstock. Jadi jangan cuma fokus pada isi fotonya. Perhatikan juga:

  • Resolusi
  • Format file
  • Ukuran file
  • Kualitas gambar
  • Detail teknis lainnya

Kamera HP sekarang memang sudah banyak yang menghasilkan resolusi tinggi. Tapi resolusi besar bukan berarti otomatis kualitasnya bagus. Foto 50 MP yang noisy dan blur tetap bisa kalah kualitas dibanding foto 12 MP yang tajam dan bersih. Jadi jangan cuma melihat angka megapixel.


11. Kita Menganggap Foto Bagus = Pasti Diterima

Ini mungkin kesalahan cara berpikir yang paling umum. Kita sering menilai foto berdasarkan: "Saya suka foto ini." Padahal Shutterstock menilainya berdasarkan standar mereka. Jadi ada dua pertanyaan berbeda: Apakah foto ini bagus menurut saya? dan Apakah foto ini memenuhi standar Shutterstock? Jawabannya bisa saja berbeda.

Contohnya foto sunset. Kita mungkin melihatnya dan berkata: "Wah, bagus banget!"

Tapi ternyata ketika diperbesar ada noise, chromatic aberration, detail yang kurang tajam, atau masalah teknis lainnya. Akhirnya ditolak.


Jangan Baper Kalau Foto Ditolak 😄

Nah, ini penting buat kawan-kawan yang baru mulai. Rejected bukan berarti kita nggak berbakat fotografi. Serius.

Hampir semua contributor pasti pernah mengalami penolakan. Bahkan foto yang menurut kita bagus pun bisa ditolak. Yang penting adalah kita belajar dari penolakan tersebut. Misalnya hari ini foto ditolak karena kualitas teknis. besok kita belajar mengecek noise. Minggu depan belajar memperbaiki pencahayaan. Kemudian belajar soal logo. Lalu belajar soal model release. Lama-lama kita akan semakin paham.

Dan akhirnya kita bisa mulai memprediksi sendiri mana foto yang kemungkinan aman untuk diupload dan mana yang sebaiknya nggak perlu dikirim.


Jangan Langsung Upload Ulang Foto yang Sama

Kalo sebuah foto ditolak, jangan langsung berpikir: "Coba upload lagi ah, siapa tahu diterima." Kalo kita tahu penyebabnya, mending perbaiki dulu.

Misalnya ditolak karena:

  • noise → cek dan perbaiki kualitasnya.
  • logo → cari solusi untuk menghilangkan atau menghindari logo.
  • blur → gunakan file lain yang lebih tajam.
  • model release → pastikan dokumennya tersedia jika memang dibutuhkan.

Intinya: Pahami dulu masalahnya, baru ambil tindakan.


Coba Belajar dari Foto yang Approved

Ada satu cara sederhana untuk belajar. Perhatikan karya-karya kita yang sudah diterima. Bandingkan dengan karya yang ditolak.

  • Apa bedanya?
  • Apakah yang ditolak lebih gelap?
  • Apakah lebih noisy?
  • Apakah terlalu mirip?
  • Apakah ada logo?
  • Apakah fokusnya kurang tajam?

Lama-lama kita akan menemukan pola. Dan ini jauh lebih berguna daripada cuma mengeluh:

"Shutterstock kok pilih-pilih banget sih?" 😅





Share:

0 comments:

Posting Komentar