Belajar mencari uang secara online

Cari artikel disini ...

Kenapa Masih Banyak Customer Beli Karya di Microstock Padahal Sudah Bisa Generate Gratis Lewat AI Seperti Gemini maupun ChatGPT?



Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.

Kalo ngomongin perkembangan AI sekarang, rasanya memang bikin contributor microstock sedikit was-was. Dulu, kalo orang membutuhkan gambar, mereka mungkin harus mencari fotografer, designer, atau membeli stock image.

Sekarang? Tinggal buka AI, ketik prompt, tunggu beberapa detik...

Jadi deh gambarnya.

Bahkan beberapa layanan AI sekarang punya versi gratis yang bisa digunakan untuk membuat gambar. Muncul pertanyaan:

"Kalo customer sekarang bisa generate gambar sendiri secara gratis lewat AI seperti Gemini maupun ChatGPT, terus kenapa mereka masih mau beli karya di Shutterstock, Adobe Stock, dan platform microstock lainnya?"

Pertanyaan ini masuk akal banget.

Tapi ternyata jawabannya nggak sesederhana "karena AI belum sebagus foto stock." Ada beberapa alasan kenapa karya microstock masih punya nilai.

1. Customer Nggak Selalu Mau Bikin Sendiri

Ini alasan yang paling sederhana. Bayangkan seorang designer sedang mengerjakan desain untuk klien. Dia membutuhkan foto seorang pria sedang bekerja menggunakan laptop.

Ada dua pilihan.

  • Pertama, buka AI, bikin prompt, generate gambar, mencoba beberapa kali sampai mendapatkan hasil yang cocok.
  • Kedua, buka Shutterstock, ketik keyword yang sesuai, lalu pilih foto yang sudah tersedia.

Kalo foto yang dibutuhkan sudah ada dan harganya masih masuk akal, mending tinggal beli. Karena waktu juga punya nilai. Customer nggak selalu ingin menghabiskan waktu untuk membuat sesuatu yang sebenarnya sudah tersedia.


2. AI Nggak Selalu Menghasilkan Gambar yang Kita Inginkan

Walaupun perkembangan AI sangat cepat, bukan berarti setiap prompt langsung menghasilkan gambar yang sempurna.

  • Kadang posisi tangan aneh.
  • Kadang ekspresi wajah nggak sesuai.
  • Kadang objek yang kita minta bentuknya malah berubah.
  • Kadang komposisinya nggak cocok.

Atau kita sudah mencoba berkali-kali tapi hasilnya tetap nggak sesuai dengan bayangan. Akhirnya kita malah menghabiskan waktu untuk:

Generate → cek → revisi prompt → generate lagi → cek lagi. ðŸ˜‚

Kalo di microstock ternyata sudah ada gambar yang sesuai, customer bisa langsung menggunakannya. Jadi bukan cuma masalah bisa atau nggak membuat gambar dengan AI. Tapi juga masalah:

"Mana yang lebih cepat menyelesaikan pekerjaan saya?"


3. Customer Mungkin Membutuhkan Foto Asli

Ini juga penting. AI bisa membuat gambar yang terlihat sangat realistis. Tapi ada situasi tertentu di mana customer memang membutuhkan foto atau dokumentasi nyata.

  • Misalnya foto sebuah tempat wisata tertentu.
  • Foto produk tertentu.
  • Foto makanan dari restoran tertentu.
  • Foto gedung tertentu.
  • Foto sebuah event.
  • Foto orang atau situasi nyata.

Untuk kebutuhan seperti itu, AI nggak bisa begitu saja menggantikan dokumentasi asli. Misalnya sebuah artikel membahas tempat wisata di Indonesia. Customer membutuhkan foto tempat tersebut.

Mau generate AI? Bisa saja dibuat gambar yang mirip. Tapi kalo yang dibutuhkan adalah dokumentasi tempat yang benar-benar ada, tentu foto asli jauh lebih masuk akal.


4. Customer Membutuhkan Konten yang Spesifik

Kadang kebutuhan customer sangat spesifik. Misalnya sebuah perusahaan membutuhkan foto produknya digunakan dalam sebuah campaign. Mereka mungkin membutuhkan foto produk dengan bentuk, warna, kemasan, dan detail yang benar-benar sesuai dengan produk mereka.

AI bisa saja digunakan untuk membuat visual berdasarkan referensi. Tapi lagi-lagi, nggak selalu menghasilkan sesuatu yang sesuai kebutuhan. Microstock juga punya banyak konten yang sangat spesifik.

Semakin spesifik kebutuhan seseorang, semakin besar kemungkinan mereka akan mencari aset yang memang sudah tersedia daripada mencoba membuatnya dari nol.


5. Menggunakan AI Juga Butuh Skill

Ini sering dilupakan. Orang kadang berpikir:

"AI kan gampang. Tinggal ketik prompt."

Ya, memang kelihatannya gampang. Tapi mendapatkan hasil yang benar-benar sesuai kebutuhan nggak selalu semudah itu.

  • Kita perlu tahu bagaimana menjelaskan apa yang kita inginkan.
  • Perlu mencoba variasi prompt.
  • Perlu memahami komposisi.
  • Perlu memilih hasil yang paling bagus.
  • Kadang perlu melakukan editing lagi setelah gambar dibuat.

Jadi AI memang mempermudah proses, tapi bukan berarti semua orang otomatis bisa menghasilkan visual yang bagus dalam sekali percobaan.


6. Customer Membeli Waktu, Bukan Cuma Gambar

Coba kita lihat dari sisi lain. Misalnya sebuah foto di microstock harganya beberapa dolar. Buat sebagian orang mungkin terasa mahal. Tapi coba bandingkan dengan waktu yang mereka habiskan kalo harus membuat sendiri.

  • Cari referensi.
  • Bikin prompt.
  • Generate berkali-kali.
  • Memilih hasil.
  • Editing.
  • Memastikan hasilnya sesuai.

Belum lagi kalo ternyata setelah digunakan desainnya nggak cocok dan harus membuat ulang. Buat seorang designer atau perusahaan, waktu kerja juga punya nilai. Jadi membayar beberapa dolar untuk mendapatkan aset yang siap digunakan bisa saja dianggap lebih murah daripada membuang waktu.




7. Lisensi Juga Menjadi Pertimbangan

Nah, ini salah satu alasan penting kenapa orang masih menggunakan platform stock. Customer bukan cuma membeli file. Mereka juga membeli hak penggunaan berdasarkan lisensi yang ditawarkan platform tersebut.

Misalnya sebuah perusahaan membutuhkan foto untuk kebutuhan komersial. Mereka tentu ingin tahu:

  • "Boleh nggak gambar ini digunakan untuk kebutuhan bisnis?"
  • "Apa saja batasan penggunaannya?"
  • "Apakah ada lisensi yang jelas?"

Platform microstock sudah menyediakan sistem lisensi untuk penggunaan konten. Jadi customer nggak perlu membuat semuanya sendiri dan kemudian bingung mengenai bagaimana status penggunaan aset tersebut. Tentu saja customer tetap harus membaca dan mengikuti ketentuan lisensi yang berlaku.


8. Perusahaan Punya Workflow Sendiri

Bayangkan sebuah perusahaan besar mempunyai tim marketing, designer, dan social media. Mereka mungkin sudah terbiasa menggunakan platform stock. Designer tinggal masuk ke akun perusahaan. Cari foto. Download. Masukkan ke desain. Selesai.

Mereka nggak selalu ingin mengubah workflow hanya karena sekarang ada AI gratis. Apalagi kalo workflow yang mereka gunakan selama ini sudah nyaman dan efisien. Perubahan teknologi nggak selalu membuat orang langsung meninggalkan kebiasaan lama.


9. Nggak Semua Customer Bisa atau Mau Menggunakan AI

Kita sebagai orang yang mengikuti perkembangan AI mungkin merasa:

"Sekarang semua orang sudah bisa generate gambar."

Tapi kenyataannya nggak semua orang mengikuti perkembangan teknologi dengan cara yang sama.

  • Ada orang yang nggak tertarik menggunakan AI.
  • Ada yang nggak tahu cara menggunakannya.
  • Ada yang lebih nyaman mencari foto yang sudah jadi.
  • Ada juga perusahaan yang punya aturan internal mengenai penggunaan AI.

Jadi jangan menganggap semua customer otomatis akan beralih ke AI hanya karena teknologinya tersedia.


10. AI Justru Bisa Membuat Kebutuhan Visual Semakin Besar

Ini bagian yang menarik. AI memang bisa menjadi pesaing bagi microstock. Tapi di sisi lain, AI juga bisa membuat kebutuhan terhadap konten visual semakin besar.

  • Sekarang semakin banyak orang bisa membuat konten.
  • Semakin banyak bisnis membuat website.
  • Semakin banyak orang membuat video.
  • Semakin banyak social media membutuhkan visual.
  • Semakin banyak campaign membutuhkan gambar.

Artinya kebutuhan terhadap aset visual juga bisa ikut berkembang. Memang jenis konten yang dicari bisa berubah. Tapi kebutuhan terhadap visual belum tentu hilang.


Jadi Apakah AI Akan Membunuh Microstock?

Nah, ini pertanyaan yang mungkin ada di kepala banyak contributor. Menurut saya, kita jangan melihatnya secara hitam putih:

AI vs Microstock.

Karena keduanya bisa saja berjalan bersamaan. AI memang akan mengambil sebagian kebutuhan yang sebelumnya dipenuhi oleh stock image. Itu kenyataan yang harus kita akui.

Untuk visual yang sangat generik, customer mungkin merasa lebih praktis membuat sendiri menggunakan AI. Tapi untuk kebutuhan tertentu, stock image masih punya kelebihan. Terutama ketika customer membutuhkan konten yang spesifik, nyata, cepat digunakan, dan memiliki lisensi yang jelas.

Jadi yang mungkin terjadi bukan microstock hilang begitu saja. Tapi jenis konten yang punya nilai bisa berubah.




Contributor Juga Harus Ikut Beradaptasi

Nah, ini yang menurut saya paling penting. Kalo kita menjadi contributor, jangan cuma berpikir:

"AI nggak boleh mengalahkan karya saya."

Teknologi akan terus berkembang. Mending kita bertanya:

"Karya seperti apa yang masih dibutuhkan customer?"

Misalnya konten yang lebih spesifik.

  • Foto aktivitas nyata.
  • Foto lokal.
  • Foto budaya.
  • Foto tempat tertentu.
  • Foto bisnis lokal.
  • Foto objek yang sulit dibuat AI.

Foto dengan konsep yang benar-benar berguna untuk kebutuhan komersial. Atau karya yang punya keunikan dan konteks tertentu. Kita harus mulai berpikir bukan cuma sebagai fotografer atau designer. Tapi juga sebagai penyedia aset visual.


Jangan Takut Kalau Foto Kita Terlihat Sederhana

Ini juga menarik. Kadang kita melihat AI menghasilkan gambar yang sangat keren. Kemudian kita melihat foto kita sendiri.

"Wah, kalah jauh nih." 😂

Tapi jangan langsung berpikir begitu. Customer nggak selalu mencari gambar yang paling keren. Kadang mereka cuma membutuhkan sesuatu yang tepat.

Misalnya customer membutuhkan foto tangan memegang kartu kredit dengan background polos. Mereka nggak membutuhkan dunia futuristik dengan efek cahaya yang luar biasa. Mereka cuma butuh foto yang sesuai.

Dan kalo foto kita memenuhi kebutuhan tersebut, karya kita tetap punya nilai.


Yang Penting Bukan "AI atau Bukan AI"

Pada akhirnya, customer punya satu pertanyaan:

"Apakah aset ini bisa menyelesaikan kebutuhan saya?"

Kalo jawabannya iya, mereka bisa saja menggunakan stock photo. Kalo AI bisa memberikan hasil yang lebih cepat dan sesuai, mereka mungkin menggunakan AI. Jadi persaingannya bukan sekadar:

foto manusia vs gambar AI.

Tapi lebih kepada:

siapa yang bisa memberikan solusi visual yang paling sesuai dengan kebutuhan customer.

Ini cara berpikir yang menurut saya lebih sehat buat contributor.

Share:

0 comments:

Posting Komentar