Apakah Harga Foto Commercial vs Editorial Itu Sama di Microstock?
Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.
Buat yang sudah lama bermain microstock, pasti sudah nggak asing lagi dengan istilah Commercial dan Editorial. Keduanya merupakan jenis penggunaan foto yang sering kita temui saat mengunggah karya ke marketplace microstock.
Tapi pernah nggak kepikiran, apakah harga foto commercial dan editorial itu sama? Misalnya, kita punya dua foto dengan kualitas yang sama: foto pertama adalah gedung tanpa logo/orang, sedangkan foto kedua memperlihatkan gedung yang sama dengan logo perusahaan dan aktivitas orang-orang di sekitarnya. Keduanya bisa saja punya nilai jual, tapi apakah foto editorial dibayar lebih mahal karena punya batasan penggunaan?
Nah, kali ini kita akan membahasnya, karena ada beberapa hal yang perlu dipahami sebelum menyimpulkan bahwa foto commercial atau editorial pasti menghasilkan uang lebih banyak.
1. Apa Bedanya Foto Commercial dan Editorial?
Sebelum membahas harga, kita perlu memahami dulu perbedaan mendasar keduanya:
- Commercial: Foto yang bisa dilisensikan untuk kebutuhan komersial seperti iklan, promosi produk, pemasaran bisnis, website perusahaan, dan materi pemasaran lainnya. Contohnya foto orang bekerja dengan laptop, foto makanan untuk promosi restoran, atau produk dengan latar belakang bersih. Jenis ini umumnya memerlukan model release atau property release jika ada orang/properti yang bisa dikenali.
- Editorial: Foto yang digunakan untuk kebutuhan pemberitaan, dokumentasi, pendidikan, atau informasi. Contohnya foto demonstrasi, suasana konser, pertandingan olahraga, atau gedung dengan logo perusahaan yang terlihat jelas. Foto editorial boleh menampilkan orang, logo, atau merek tanpa release, tapi nggak boleh digunakan sembarangan untuk iklan atau promosi produk.
Jadi, perbedaan utamanya bukan soal kualitas foto, melainkan hak penggunaan dan tujuan pemakaian foto tersebut.
2. Apakah Harga Foto Commercial dan Editorial Sama?
Jawabannya: tergantung marketplace microstock yang digunakan.
Nggak ada aturan universal bahwa foto commercial harus lebih mahal daripada editorial, atau sebaliknya. Setiap marketplace punya sistem lisensi, harga jual, dan perhitungan royalti masing-masing.
Ada platform yang membedakan harga berdasarkan jenis lisensi atau koleksi editorial tertentu. Ada juga sistem yang menghitung penghasilan contributor berdasarkan paket pelanggan, jenis lisensi, dan harga bersih yang diterima platform. Jadi, kita nggak bisa langsung menyimpulkan bahwa setiap foto editorial pasti menghasilkan royalti lebih tinggi.
3. Bagaimana dengan Shutterstock?
Di Shutterstock, ada hal menarik yang perlu diperhatikan. Shutterstock memiliki koleksi Premium Editorial tersendiri yang mempunyai lisensi editorial khusus dan skema pembelian terpisah bagi pelanggan (bisa melalui unduhan satuan atau paket khusus).
Tapi ada satu hal yang sering bikin contributor salah paham: nggak semua foto berstatus editorial otomatis masuk ke koleksi Premium Editorial. Shutterstock juga menyediakan konten editorial biasa yang dapat ditemukan melalui pencarian umum dengan skema lisensi berbeda.
Mengenai penghasilan kontributor, Shutterstock menggunakan sistem persentase royalti (berkisar dari 15% sampai 40% berdasarkan tingkat level kontributor) dari harga lisensi yang diterima platform. Jadi, penghasilan dari satu unduhan bisa bervariasi dan tidak bisa ditebak hanya dari label commercial atau editorial.
4. Bagaimana dengan Adobe Stock?
Adobe Stock juga punya sistem lisensi dan koleksi yang perlu dipahami. Untuk konten standar, Adobe Stock menerapkan royalti sebesar 33% untuk foto/ilustrasi/vektor dan 35% untuk video, berdasarkan harga bersih lisensi yang diterima.
Adobe Stock memiliki Editorial Collection di mana kontennya bisa diakses melalui credit pack, bukan selalu melalui langganan standar. Artinya, ada perbedaan skema pembelian antara konten standar dan beberapa jenis konten editorial.
Namun, perhitungan akhirnya tetap bergantung pada skema lisensi dan ketentuan pembayaran yang berlaku di platform tersebut.
5. Jadi, Mana yang Lebih Menguntungkan untuk Contributor?
Menurut saya, kita nggak bisa menentukan mana yang lebih menguntungkan hanya berdasarkan jenis lisensinya. Keduanya punya pangsa pasar yang berbeda:
- Commercial: Punya pasar yang sangat luas karena dicari untuk berbagai kebutuhan promosi, periklanan, dan pemasaran bisnis.
- Editorial: Punya pasar tersendiri yang sangat diandalkan oleh media berita, publikasi, buku dokumenter, dan kebutuhan informasi.
Misalnya, foto konser musik atau tempat wisata dengan aktivitas nyata dan logo yang terlihat lebih cocok untuk editorial karena terkendala izin hak cipta untuk iklan komersial. Keduanya punya peluang pasar masing-masing. Daripada mengejar jenis foto yang dianggap lebih mahal, mending kita membuat karya yang memang memiliki nilai guna bagi pembeli.
6. Tips untuk Contributor Microstock
Supaya peluang penjualan foto kamu makin maksimal, perhatikan beberapa tips berikut:
- Pahami tujuan penggunaan foto: Tentukan sejak awal apakah foto layak commercial atau editorial. Jangan memaksakan foto editorial menjadi commercial.
- Perhatikan izin dan hak penggunaan: Pastikan model/property release lengkap untuk foto commercial, dan pastikan konten benar-benar sesuai aturan editorial jika memilih jalur editorial.
- Buat portofolio yang beragam: Jangan hanya mengandalkan satu jenis foto. Gabungkan foto produk, lifestyle, makanan, hingga dokumentasi tempat.
- Pelajari sistem royalti platform: Ketahui perbedaan skema harga dan persentase royalti di Shutterstock, Adobe Stock, dan marketplace lainnya.
- Utamakan kualitas dan relevansi: Buat foto yang tajam, pencahayaannya bagus, dan yang paling penting: memiliki kegunaan nyata bagi pembeli.
Kesimpulan
Apakah harga foto commercial dan editorial itu sama di microstock? Jawabannya tergantung platform dan jenis lisensi yang digunakan. Foto commercial berfokus pada promosi dan pemasaran, sementara editorial berfokus pada pemberitaan dan dokumentasi.
Keduanya punya pasar dan kegunaan masing-masing. Buat kawan-kawan yang sedang membangun portofolio microstock, jangan terlalu terpaku pada anggapan bahwa salah satunya pasti lebih mahal. Fokuslah membuat foto berkualitas yang sesuai dengan jenis lisensi yang diperbolehkan, karena dalam dunia microstock, foto yang dicari pembeli pasti punya peluang untuk menghasilkan uang!



0 comments:
Posting Komentar