Belajar mencari uang secara online

Cari artikel disini ...

Stop ternak akun microstock



Boleh Nggak Bikin Banyak Akun di Microstock? Jangan Asal Ternak Akun!

Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.

Kalo sudah mulai mengenal dunia microstock, mungkin ada satu godaan yang pernah muncul di pikiran: “Gimana kalo bikin banyak akun aja?”

Misalnya punya satu akun Shutterstock, terus bikin akun kedua, ketiga, bahkan lebih banyak lagi. Tujuannya macam-macam:

  • Ada yang ingin memisahkan jenis karya.
  • Ada yang ingin punya lebih banyak tempat untuk upload.
  • Ada juga yang berpikir: “Kalo satu akun menghasilkan sedikit, mungkin kalo punya banyak akun penghasilannya jadi lebih banyak.”

Nah, kebiasaan seperti ini sering disebut sebagai “ternak akun”. Kelihatannya memang menarik, tapi menurut saya, mending jangan dilakukan sembarangan. Kenapa? Karena urusan banyak akun di website microstock biasanya punya aturan yang cukup ketat.


1. Setiap Website Punya Aturan yang Berbeda

Hal pertama yang perlu dipahami adalah: Nggak semua website microstock punya aturan akun yang sama. Ada platform yang memberikan kemungkinan memiliki lebih dari satu akun dalam kondisi tertentu, tapi biasanya tetap ada syarat dan aturan ketat yang harus dipenuhi.

Contohnya Shutterstock: dalam kebijakan resminya, mereka menyatakan bahwa penggunaan beberapa akun pada dasarnya dibatasi. Akun kedua bisa diperbolehkan dalam kondisi tertentu, misalnya jika didaftarkan atas nama entitas hukum lain yang memiliki materi berhak cipta sendiri (seperti akun pribadi dan akun bisnis yang terpisah).

Sementara itu, Adobe Stock juga punya aturan yang sangat ketat. Contributor nggak diperbolehkan membuat dan mengoperasikan beberapa akun contributor tanpa persetujuan tertulis dari Adobe Stock. Adobe hanya mempertimbangkan pengecualian untuk kebutuhan bisnis tertentu.

Jadi jangan sampai kita berpikir: “Oh, website ini boleh dua akun, berarti semua microstock boleh.” Belum tentu!


2. Jangan Bikin Banyak Akun Cuma Buat Memperbesar Peluang Download

Nah, ini yang menurut saya paling penting. Misalnya kita punya satu akun, kemudian kita membuat lima akun tambahan dengan identitas yang sama (atau dengan cara tertentu supaya sistem nggak tahu), lalu karya yang sama atau sangat mirip kita sebar ke berbagai akun tersebut agar peluang download lebih besar.

Nah, ini jelas bukan strategi yang mending kita coba. Adobe Stock secara resmi menyebut bahwa beberapa akun nggak boleh digunakan untuk mengirimkan konten yang sama atau serupa dengan tujuan meningkatkan penjualan secara artifisial atau mengakali batas upload. Pelanggaran kebijakan tersebut bisa menyebabkan akun ditutup permanently.

Shutterstock juga menyatakan bahwa contributor nggak boleh membuka akun kedua tanpa izin dan melarang berbagi konten antar akun tanpa persetujuan. Jadi daripada mencari celah, mending fokus membangun satu akun dengan portfolio yang bagus.


3. “Tapi Kan Ada yang Punya Dua Akun?”

Iya, dan ini memang penting untuk diluruskan. Memiliki dua akun nggak selalu berarti otomatis melanggar aturan di semua platform.

Misalnya di Shutterstock, ada kondisi tertentu yang memungkinkan akun kedua, seperti akun pribadi dan akun bisnis dengan entitas hukum yang berbeda serta materi berhak cipta masing-masing. Adobe Stock juga memiliki mekanisme untuk mengajukan pengecualian jika memang ada kebutuhan bisnis yang sah.

Jadi masalahnya bukan sekadar “punya dua akun = pasti banned”, melainkan: “Jangan membuat atau menjalankan banyak akun tanpa memahami dan mengikuti aturan platform.” Ini bedanya.


4. Bagaimana dengan Akun Suami dan Istri?

Nah, ini juga sering bikin bingung. Misalnya suami punya akun microstock, kemudian istri juga ingin menjadi contributor. Apakah otomatis dianggap sebagai ternak akun? Nggak selalu.

Kalo memang suami dan istri adalah dua orang yang berbeda dan masing-masing membuat serta mengelola akun sendiri, kondisinya bisa berbeda. Contohnya, Shutterstock menjelaskan bahwa apabila suami dan istri sama-sama fotografer dan ingin melisensikan karya masing-masing, mereka dapat memiliki akun terpisah. Tapi syaratnya: setiap akun harus berisi karya milik pemilik akun tersebut. Akun istri nggak boleh digunakan untuk mengupload karya yang sebenarnya dibuat oleh suami.

Jadi bukan sekadar “pake nama istri biar punya akun kedua”, tapi harus benar-benar akun milik istri dan kontennya juga memang milik istri.


5. Jangan Pinjam Identitas Orang Lain

Nah, ini yang sebaiknya benar-benar dihindari:

  • “Punya akun sendiri sudah mentok, bikin akun lagi pake nama saudara aja.”
  • “Pake nama teman aja, nanti gue yang upload.”

Jangan! Masalahnya bukan cuma soal akun, tapi ada urusan identitas, hak cipta, pembayaran, pajak, dan kepemilikan karya.

Shutterstock sendiri menjelaskan bahwa satu akun hanya boleh memiliki satu contributor dan akun tersebut harus berisi karya yang hak ciptanya dimiliki oleh pemilik akun. Akun juga nggak boleh dibagikan kepada pasangan atau anggota keluarga lainnya. Jadi jangan menganggap identitas orang lain sebagai “jalan belakang” untuk mendapatkan akun tambahan.


6. Apalagi Kalo Tujuannya Mengakali Batas Upload

Ini juga sering menjadi alasan orang ingin membuat banyak akun. Misalnya sebuah platform memberikan batas upload tertentu, lalu muncul pikiran: “Kalo satu akun dibatasi, bikin akun kedua aja.”

Justru ini yang bisa menjadi masalah besar. Adobe secara jelas menyebut bahwa contributor nggak boleh membuat beberapa akun untuk mengirimkan konten yang sama atau serupa demi mengakali batas upload.

Jadi jangan menjadikan banyak akun sebagai cara untuk mengakali sistem. Kalo upload kita dibatasi, lebih baik cari tahu kenapa ada batas tersebut dan gunakan akun yang sudah ada dengan sebaik mungkin.


7. Satu Akun Tapi Portfolio Berkualitas

Daripada sibuk membuat banyak akun, menurut saya ada hal yang jauh lebih berguna: perbanyak karya yang berkualitas dalam satu akun.

Daripada membagi 500 karya menjadi 5 akun (masing-masing 100 karya), mending kita fokus membangun satu portfolio yang berisi 1.000 karya berkualitas dalam satu akun. Kita bisa memperbaiki:

  • Kualitas foto & vector
  • Kualitas video
  • Keyword & deskripsi
  • Pemilihan niche
  • Konsistensi upload & riset kebutuhan pasar

Jadi energi kita digunakan untuk membuat aset visual yang bagus, bukan habis untuk mengurus keribetan banyak akun.




8. Banyak Akun Juga Bikin Kita Makin Ribet

Coba bayangkan punya lima akun microstock: lima email, lima password, lima dashboard, dan lima statistik. Belum lagi urusan payout, pajak, verifikasi, upload, metadata, dan sebagainya.

Awalnya mungkin terasa keren, tapi lama-lama: “Akun yang ini password-nya apa ya?” 😂

Belum lagi kalo ada masalah dengan salah satu akun. Kita harus mengingat akun mana yang bermasalah, email mana yang digunakan, dan metode pembayaran mana yang terhubung. Padahal tujuan awal kita kan ingin mencari uang secara online, bukan mencari kerjaan tambahan buat mengurus akun! 😅


9. Jangan Tergiur Cerita “Saya Punya Banyak Akun”

Di internet mungkin kawan-kawan pernah melihat orang yang bilang: “Gue punya 10 akun microstock” atau “Bikin banyak akun biar download banyak.” Jangan langsung ikut-ikutan.

Kita nggak tahu apakah kondisi akun mereka memang sesuai dengan aturan platform atau tidak. Bisa jadi mereka punya akun bisnis yang memang diperbolehkan, setiap akun memang milik orang yang berbeda, mereka mendapatkan izin khusus, atau memang mereka sedang melanggar aturan dan tinggal menunggu waktu akunnya kena banned.

Jadi jangan menjadikan pengalaman orang lain sebagai patokan tanpa mengetahui detailnya. Yang paling aman adalah membaca aturan resmi platform yang kita gunakan.


10. Kalo Memang Butuh Akun Kedua, Tanyakan Dulu!

Nah, kalo memang ada alasan yang masuk akal untuk punya akun kedua, jangan langsung bikin. Cari tahu dulu aturan platformnya. Kalo memang diperlukan, hubungi support dan tanyakan apakah kita boleh memiliki akun tambahan.

Untuk Adobe Stock, bahkan ada mekanisme resmi untuk mengajukan permintaan pengecualian akun tambahan dengan memberikan alasan bisnis dan informasi akun. Adobe yang nantinya akan menilai permintaan tersebut. Ini jauh lebih aman daripada “coba bikin dulu, siapa tahu lolos.” Kalo ternyata nggak boleh, kita sendiri yang bakal repot.


Jadi, Apakah Ternak Akun Selalu Dilarang?

Jawabannya: Nggak bisa digeneralisasi untuk semua website microstock.

Setiap platform punya kebijakan masing-masing. Ada yang sangat membatasi akun kedua, ada yang bisa memberikan pengecualian, ada yang memperbolehkan akun berbeda untuk kebutuhan bisnis tertentu, dan ada juga kondisi di mana dua orang berbeda memang boleh memiliki akun masing-masing.

Tapi hampir selalu ada aturan ketat yang harus dipatuhi. Jadi jangan mengambil kesimpulan: “Ada yang boleh dua akun, berarti gue juga bebas bikin lima akun.” Nggak begitu ya kawan-kawan!


11. Jangan Sampai Ulah Beberapa Orang Merugikan Contributor Lain

Ada satu hal lagi yang menurut saya perlu kita pikirkan. Masalah ternak akun bukan cuma soal akun kita sendiri.

Kalo dalam satu negara banyak orang yang mencoba membuat akun secara massal, menggunakan identitas orang lain, menjual-belikan akun, atau mencoba mengakali sistem platform, bukan nggak mungkin platform akhirnya menjadi lebih waspada terhadap pendaftaran dan aktivitas contributor dari negara tersebut.

Akibatnya, contributor baru yang sebenarnya serius dan mengikuti aturan juga bisa saja menghadapi proses verifikasi yang lebih ketat atau pemeriksaan yang lebih banyak. Jadi jangan sampai karena ulah beberapa orang yang mencari keuntungan dengan cara yang nggak sesuai aturan, contributor lain yang benar-benar serius malah ikut terkena dampaknya.

Misalnya kita bayangkan sebuah platform melihat banyak aktivitas mencurigakan yang berasal dari suatu wilayah. Mereka tentu bisa saja mengambil langkah untuk memperketat sistem keamanan, verifikasi identitas, atau proses pendaftaran untuk mengurangi penyalahgunaan. Bukan berarti semua orang di negara tersebut dianggap melanggar, tapi sistem keamanan platform biasanya memang dibuat untuk merespons pola penyalahgunaan yang mereka temukan.

Makanya, menurut saya, menjadi contributor juga perlu punya rasa tanggung jawab. Jangan cuma berpikir: “Yang penting akun gue aman.” Karena kalo praktik penyalahgunaan akun dilakukan oleh banyak orang, dampaknya bisa lebih luas: bisa membuat platform semakin ketat, membuat contributor baru semakin susah mendaftar, dan pada akhirnya contributor yang benar-benar serius juga bisa ikut merasakan dampaknya.

Jadi daripada ikut-ikutan ternak akun, jual-beli akun, atau mencari celah sistem, mending kita fokus membangun akun sendiri secara normal dan mengikuti aturan platform. Kita mencari dollar dari karya, bukan dari banyak-banyakan akun.



Share:

0 comments:

Posting Komentar

Labels