Belajar mencari uang secara online

Cari artikel disini ...

AI Jangan Dilawan, Tapi Dimanfaatkan!

 


Menolak AI vs Memanfaatkan AI: Mana yang Bikin Kita Tetap Relevan?

Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.

Belakangan ini, perkembangan AI makin gila-gilaan. Dulu, untuk membuat gambar bagus kita perlu belajar desain bertahun-tahun. Sekarang, orang bisa mengetik beberapa kalimat, lalu AI membantu menghasilkan gambar dalam hitungan detik.

Dulu, untuk membuat video kita perlu kamera, perlengkapan, dan kemampuan editing. Sekarang, sebagian proses tersebut bisa dibantu AI. Bahkan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga dan waktu, sekarang mulai bisa dikerjakan dengan lebih cepat berkat teknologi ini.

Wajar kalo ada orang yang merasa khawatir. Ada yang takut kehilangan pekerjaan, takut keterampilannya nggak lagi dibutuhkan, sampai ada yang terang-terangan menolak perkembangan AI. Tapi, coba kita pikirkan lagi.

Gak ada yang bisa melawan perkembangan AI begitu saja. Perusahaan-perusahaan besar saja ikut beradaptasi dengan adanya AI. Lah, kita siapa kok tiba-tiba mau melawan AI sendirian? 😅

Bukan berarti kita harus menerima semua perkembangan AI tanpa berpikir kritis. Kita tetap boleh mengkritik dampaknya, memperjuangkan hak pekerja, dan mempertanyakan bagaimana teknologi ini digunakan. Tapi, kalo tujuan kita adalah mempertahankan penghasilan dan tetap relevan di dunia kerja, menurut saya mending kita belajar memanfaatkan AI daripada cuma sibuk menolaknya.


1. Perusahaan Besar Saja Mulai Merangkul AI

Coba lihat bagaimana perusahaan-perusahaan besar merespons perkembangan AI. Banyak perusahaan mulai memasukkan AI ke dalam produk, layanan, dan alur kerja mereka. Alasannya beragam, mulai dari meningkatkan efisiensi, mempercepat pekerjaan, sampai membuka peluang bisnis baru.

Salah satu contoh yang menarik buat kita yang berkecimpung di dunia kreatif adalah Shutterstock.

Kawan-kawan yang sudah lama bermain microstock pasti tahu bahwa Shutterstock nggak menerima karya generative AI yang diunggah langsung oleh kontributor untuk dilisensikan di marketplace mereka. Tapi, di sisi lain, Shutterstock justru menyediakan AI Image Generator yang memungkinkan penggunanya membuat gambar menggunakan AI.

Gambar yang dibuat melalui layanan AI Shutterstock bisa dilisensikan dan diunduh oleh pelanggan. Shutterstock juga menjelaskan bahwa gambar yang dihasilkan melalui tool tersebut dapat masuk ke koleksi mereka agar bisa ditemukan dan dilisensikan oleh pengguna lain.

Lho, kok bisa begitu? Bukannya mereka melarang gambar AI?

Di sinilah kita perlu memahami perbedaannya. Shutterstock memiliki kebijakan tersendiri untuk karya yang diunggah oleh kontributor eksternal. Sementara itu, gambar yang dihasilkan melalui layanan AI milik Shutterstock merupakan bagian dari sistem AI yang mereka sediakan sendiri.

Shutterstock juga menjelaskan bahwa teknologi AI mereka dikembangkan dengan memanfaatkan dataset berlisensi, dan mereka memiliki skema kompensasi bagi kontributor yang karyanya digunakan dalam pengembangan teknologi tersebut.

Pelajaran yang bisa kita ambil: Perusahaan besar nggak harus menolak teknologi baru untuk mempertahankan bisnisnya, mereka bisa mengembangkan cara baru untuk memanfaatkan teknologi tersebut. Kita sebagai pekerja kreatif juga bisa belajar dari pola pikir itu.


2. Jangan Sampai Kita Sibuk Melawan, Tapi Orang Lain Sudah Memanfaatkan

Bayangkan ada dua orang desainer grafis:

  • Orang pertama: Merasa AI adalah ancaman. Dia menolak mempelajarinya karena takut teknologi tersebut mengambil alih pekerjaannya.
  • Orang kedua: Menyadari bahwa AI bisa mengancam sebagian pekerjaan desain. Tapi, daripada hanya mengeluh, dia mencoba mempelajari bagaimana AI bisa membantunya bekerja lebih efisien.

Ketika mendapatkan proyek, orang kedua menggunakan AI untuk mencari inspirasi, mengeksplorasi konsep, atau membuat draft awal. Setelah itu, dia menggunakan keterampilan desainnya untuk memperbaiki hasil, menyesuaikannya dengan kebutuhan klien, dan memastikan hasil akhirnya berkualitas.

Siapa yang lebih punya banyak pilihan? Tentu saja kita nggak bisa memastikan siapa yang akan lebih sukses karena bergantung pada banyak faktor. Tapi, orang kedua setidaknya sedang menambah kemampuannya. Dia nggak cuma mengandalkan cara kerja lama, tapi juga belajar menggunakan alat baru.

Hal yang sama berlaku buat penulis, fotografer, editor video, ilustrator, content creator, bahkan pekerja administrasi. AI bisa menjadi pesaing untuk tugas tertentu, tapi juga bisa menjadi alat bantu untuk meningkatkan kemampuan kita. Jangan sampai kita terlalu sibuk berdebat apakah AI baik atau buruk, sementara orang lain sudah belajar menggunakannya untuk mengembangkan pekerjaan mereka.


3. Buat Microstocker, AI Bisa Jadi Alat Bantu

Buat microstocker, perkembangan AI memang membawa tantangan tersendiri. AI bisa menghasilkan gambar dengan cepat, dan hal tersebut berpotensi meningkatkan persaingan di pasar aset digital. Tapi, bukan berarti semua microstocker harus langsung meninggalkan pekerjaannya.

Kita bisa memanfaatkan AI untuk membantu beberapa bagian dari proses kreatif, contohnya:

  • Mencari ide konten: AI bisa membantu menemukan ide foto, ilustrasi, atau footage berdasarkan kebutuhan pasar.
  • Menyusun konsep pemotretan: Meminta AI membuat daftar objek, komposisi, atau tema yang ingin difoto.
  • Membantu riset keyword: AI bisa memberikan kandidat keyword yang relevan, kemudian kita periksa lagi agar tidak keliru.
  • Menganalisis peluang konten: Mengembangkan ide berdasarkan niche tertentu.
  • Mempercepat pekerjaan pendukung: Merapikan catatan dan membuat perencanaan produksi aset.

Tapi, ada satu hal penting yang perlu diingat: Memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan nggak sama dengan mengunggah hasil AI ke semua platform microstock.

Setiap platform punya kebijakan berbeda. Shutterstock tidak menerima karya generative AI yang diunggah langsung oleh kontributor, sementara ada platform lain yang menerima karya AI dengan persyaratan tertentu. Kita juga nggak perlu memaksakan AI masuk ke semua bagian pekerjaan. Kalo kita lebih produktif menggunakan kamera untuk membuat foto asli, ya terus kembangkan kemampuan fotografi tersebut.


4. Desainer Nggak Harus Kalah dari AI, Tapi Perlu Beradaptasi

Ada kekhawatiran bahwa AI akan membuat jasa desain grafis nggak lagi dibutuhkan. Kekhawatiran ini nggak sepenuhnya tanpa alasan karena beberapa pekerjaan desain sederhana memang bisa dikerjakan lebih cepat dengan bantuan AI.

Tapi, kebutuhan desain nggak berhenti pada membuat gambar yang terlihat bagus. Klien juga membutuhkan desain yang sesuai dengan identitas brand, punya pesan yang jelas, bisa digunakan sesuai kebutuhan, dan memenuhi spesifikasi teknis.

AI mungkin bisa menghasilkan puluhan konsep dalam waktu singkat. Tapi, seseorang tetap perlu menentukan konsep mana yang paling sesuai, memeriksa detailnya, dan menyelesaikan masalah desain yang sebenarnya. Desainer bisa menggunakan AI untuk brainstorming, lalu menyelesaikan desain secara manual.

Teknologi bisa berubah dengan cepat, tapi kemampuan memahami kebutuhan pengguna, menyelesaikan masalah, dan mengambil keputusan kreatif tetap menjadi bekal yang berharga.


5. Content Creator Bisa Menggunakan AI untuk Mempercepat Produksi

Buat kawan-kawan yang sedang membangun akun Instagram, TikTok, YouTube, atau blog, AI juga bisa membantu banyak hal:

  • Kehabisan ide konten: Menggunakan AI untuk mencari topik berdasarkan niche.
  • Kesulitan menyusun naskah: AI bisa membantu membuat draft awal.
  • Merangkum artikel: Mengubah artikel panjang menjadi carousel Instagram secara cepat.
  • Kalender konten: Menyusun rencana konten untuk satu bulan.

Tapi, jangan sampai seluruh konten kita hanya berupa hasil AI yang langsung dipublikasikan tanpa diperiksa. Kalo semua orang menggunakan AI untuk membuat konten yang sama, hasilnya bisa terasa seragam dan kurang punya ciri khas.

Masukkan pengalaman, pendapat, dan sudut pandang kita sendiri. AI bisa membantu menyusun kata-kata, tapi pengalaman nyata kita bisa memberikan nilai tambahan yang nggak dimiliki oleh semua orang.


6. Jangan Cuma Belajar Prompt, Belajar Juga Cara Menghasilkan Uang

Sekarang banyak orang tertarik belajar membuat prompt AI. Memang, kemampuan menyusun instruksi yang jelas bisa membantu menghasilkan output yang lebih sesuai. Tapi, ada hal yang lebih penting daripada sekadar jago membuat prompt: Bagaimana kemampuan tersebut bisa menyelesaikan masalah dan menghasilkan uang?

Misalnya, kita bisa menghasilkan gambar AI yang bagus. Lalu, apa langkah berikutnya?

  • Apakah kita akan menjual jasa pembuatan visual?
  • Membantu bisnis membuat materi promosi?
  • Membuat konten untuk media sosial?
  • Membantu proses desain produk?

Contohnya, seorang pemilik usaha kecil mungkin nggak terlalu peduli apakah kita menggunakan AI atau tidak. Yang dia butuhkan adalah materi promosi yang menarik, sesuai identitas bisnis, dan selesai tepat waktu. Kalo kita mampu memberikan hasil seperti itu, AI bisa menjadi salah satu alat bantu yang membuat pekerjaan kita lebih efisien.

Jadi, jangan cuma bertanya, "AI apa yang sedang populer?" Coba tanyakan juga, "Masalah apa yang bisa saya selesaikan dengan bantuan AI?"


7. Tapi, Jangan Sampai Kita Menelan Semua Hasil AI Mentah-Mentah

Memanfaatkan AI bukan berarti mempercayai semua yang dihasilkannya. AI bisa membuat kesalahan, memberikan informasi yang nggak akurat, atau menghasilkan gambar yang punya masalah pada detail tertentu.

Dalam pekerjaan kreatif, kita juga perlu memperhatikan kemungkinan kemiripan dengan karya orang lain, penggunaan merek, karakter berhak cipta, dan persoalan hak penggunaan.

  • Kalo menggunakan AI untuk riset, periksa fakta yang diberikan.
  • Kalo menggunakan AI untuk desain, periksa kualitas visual dan kesesuaiannya.
  • Kalo menggunakan AI untuk metadata microstock, periksa apakah judul dan keyword benar-benar akurat.

AI memang bisa membantu kita bekerja lebih cepat, tapi tanggung jawab terhadap hasil akhirnya tetap ada di tangan kita.


8. Mulai dari Sekarang, Nggak Perlu Menunggu Sampai Terlambat

Kalo selama ini kita belum pernah menggunakan AI untuk bekerja, nggak perlu langsung merasa tertinggal. Kita bisa mulai dari hal sederhana: pilih satu pekerjaan yang sering kita lakukan, lalu cari tahu apakah AI bisa membantu mempercepat prosesnya.

  • Penulis: Gunakan AI untuk brainstorming dan membuat kerangka artikel.
  • Desainer: Gunakan AI untuk mengeksplorasi ide visual.
  • Microstocker: Gunakan AI untuk menyusun daftar konsep aset dan riset keyword.
  • Content Creator: Gunakan AI untuk merencanakan konten dan menyusun draft naskah.

Setelah mencoba, evaluasi hasilnya: Apakah pekerjaan menjadi lebih cepat? Apakah kualitasnya tetap bagus? Dari situ kita bisa menemukan cara kerja yang paling cocok.

Kita nggak harus langsung menguasai semua tool AI yang tersedia, cukup pilih yang benar-benar berguna untuk pekerjaan kita. Keterampilan dasar tetap perlu dikembangkan karena AI akan lebih bermanfaat kalo kita tahu bagaimana menilai hasil yang bagus dan membedakannya dari hasil yang asal jadi!




Share:

0 comments:

Posting Komentar

Labels