Belajar mencari uang secara online

Cari artikel disini ...

Kenapa ada website microstock yang melarang upload AI (artificial intelligence)?

 

Kenapa Ada Website Microstock yang Melarang Upload AI (Artificial Intelligence)?

Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.

Belakangan ini, teknologi AI makin berkembang. Sekarang kita bisa bikin gambar, ilustrasi, bahkan video cuma dari sebuah prompt. Nggak harus punya kamera mahal atau jago gambar dulu buat mulai menghasilkan karya visual.

Tapi ada satu hal yang mungkin bikin kawan-kawan bingung: Kenapa ada website microstock yang melarang upload karya AI, padahal ada juga platform yang justru menerima konten AI?

Contohnya, Adobe Stock menerima konten generative AI selama memenuhi aturan mereka. Sementara itu, Shutterstock nggak menerima konten AI yang diunggah langsung oleh kontributor untuk dilisensikan di marketplace mereka. Lho, kok bisa beda begitu? Nah, kali ini kita bakal membahas beberapa alasan kenapa website microstock bisa punya aturan yang berbeda soal konten AI.


1. Masalah Hak Cipta dan Kepemilikan Karya

Ini salah satu alasan penting yang sering dibahas ketika kita ngomongin karya AI.

Ketika kita membuat gambar menggunakan AI, kita memang memberikan prompt, memilih hasil, dan mungkin melakukan beberapa edit tambahan. Tapi proses pembuatannya juga melibatkan model AI yang sebelumnya dilatih menggunakan berbagai data. Masalahnya, siapa yang sebenarnya memiliki hak atas hasil gambar tersebut?

Jawabannya nggak selalu sederhana. Status perlindungan hak cipta untuk karya yang dibuat menggunakan AI bisa bergantung pada hukum yang berlaku, tingkat kontribusi manusia, dan kondisi spesifik karya tersebut. Buat website microstock, urusan ini penting karena mereka memberikan lisensi kepada pembeli yang ingin menggunakan konten untuk berbagai kebutuhan.

Shutterstock menjelaskan bahwa salah satu alasan mereka menolak upload AI dari kontributor adalah karena mereka ingin memastikan kontributor bisa membuktikan kepemilikan hak kekayaan intelektual atas konten yang dikirimkan. Shutterstock juga menyebut bahwa kepemilikan hasil AI nggak selalu bisa diberikan kepada satu individu karena model AI memanfaatkan karya dari banyak pihak. Jadi, platform perlu memikirkan apakah mereka bisa memberikan lisensi atas karya tersebut dengan tingkat kepastian yang mereka inginkan.


2. Kekhawatiran Soal Karya Seniman Lain

Coba bayangkan kalo seseorang membuat gambar AI yang sangat mirip dengan karya ilustrator lain. Bisa saja orang yang membuat prompt merasa bahwa gambar itu adalah hasil karyanya sendiri. Tapi bagaimana kalo hasilnya ternyata menyerupai karya orang lain yang masih dilindungi hak cipta?

Nah, hal seperti ini bisa menimbulkan persoalan. Model AI generatif dapat mempelajari pola dari data pelatihan yang berisi banyak karya visual. Karena itu, platform perlu mempertimbangkan risiko pelanggaran hak pihak ketiga, termasuk kemungkinan konten yang diunggah terlalu mirip dengan karya yang sudah ada.

Shutterstock menyatakan bahwa mereka nggak menerima karya AI langsung dari kontributor karena kesulitan memastikan asal model AI dan memastikan semua seniman yang terlibat dalam proses pelatihan mendapatkan kompensasi yang sesuai. Tapi perlu dipahami juga, bukan berarti setiap gambar AI pasti melanggar hak cipta. Persoalannya lebih luas, yaitu bagaimana platform memastikan hak dan izin atas konten yang mereka distribusikan.


3. Memastikan Seniman Mendapatkan Kompensasi

Ini masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Karya seniman, fotografer, dan ilustrator bisa menjadi bagian dari data yang digunakan untuk mengembangkan teknologi AI. Maka muncul pertanyaan: kalo karya mereka ikut berperan dalam pengembangan AI, bagaimana mereka mendapatkan kompensasi?

Shutterstock menjelaskan bahwa mereka bekerja sama dengan mitra teknologi dan menggunakan dataset berlisensi untuk pengembangan AI. Mereka juga memiliki Contributor Fund sebagai salah satu mekanisme kompensasi bagi kontributor yang karyanya berperan dalam pengembangan teknologi tersebut.

Dari sudut pandang platform, mengizinkan semua orang mengunggah gambar AI dari berbagai generator bisa membuat proses pelacakan asal konten dan kompensasi menjadi lebih rumit. Misalnya, platform menerima gambar AI dari banyak generator berbeda. Mereka mungkin nggak punya informasi yang cukup untuk mengetahui model apa yang digunakan, data apa yang dipakai untuk melatihnya, atau bagaimana hak para pemilik karya dalam data tersebut ditangani. Itulah salah satu pertimbangan yang dijelaskan Shutterstock dalam kebijakan mereka.


4. Menjaga Kepercayaan Pembeli

Website microstock bukan cuma tempat kontributor mengunggah karya. Di sisi lain, ada pembeli yang membutuhkan gambar, video, dan ilustrasi untuk berbagai keperluan—seperti iklan, desain kemasan, website, presentasi, atau proyek komersial lainnya. Mereka perlu memahami apa yang sedang mereka beli dan lisensi apa yang berlaku.

Konten AI juga bisa menimbulkan masalah kalo terlihat seperti foto dokumentasi asli, padahal sebenarnya merupakan gambar sintetis. Misalnya, gambar yang seolah-olah memperlihatkan kejadian nyata, orang sungguhan, atau lokasi tertentu. Karena itu, sebagian platform menerapkan aturan pelabelan atau pembatasan tertentu supaya pembeli bisa memahami asal konten.

Adobe Stock, misalnya, menerima konten generative AI dengan persyaratan pelabelan, hak penggunaan, dan standar kualitas tertentu. Adobe juga melarang prompt, judul, dan keyword yang merujuk pada nama artis, orang nyata, karakter fiksi, atau karya berhak cipta dalam kondisi yang dilarang oleh panduan mereka. Jadi, transparansi soal asal karya menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.


5. Kualitas Konten dan Banyaknya Gambar Serupa

Sekarang coba kita lihat dari sisi kualitas marketplace. Dengan bantuan AI, seseorang bisa menghasilkan banyak gambar dalam waktu relatif singkat. Bahkan, dari satu prompt saja bisa dibuat beberapa variasi gambar. Ini tentu bisa membantu proses kreatif. Tapi kalo dilakukan tanpa seleksi, marketplace juga bisa dipenuhi gambar yang mirip-mirip, kurang berguna, atau punya masalah visual.

Contoh masalah kualitas yang sering terjadi:

  • Gambar dengan komposisi yang hampir sama.
  • Banyak variasi dari satu prompt tanpa perbedaan berarti.
  • Detail anatomi yang aneh atau nggak konsisten (misalnya jumlah jari).
  • Objek yang terlihat meyakinkan sekilas, tapi sebenarnya punya cacat visual.
  • Konten yang kurang memiliki kegunaan bagi pembeli.

Adobe Stock sendiri menerima karya generative AI, tapi tetap meminta kontributor memilih konten yang memberikan nilai unik dan menghindari pengiriman banyak variasi serupa dari prompt yang sama. Konten AI juga tetap melewati proses moderasi dan standar kualitas. Artinya, menerima AI bukan berarti platform membebaskan semua jenis gambar AI untuk diunggah.


6. Setiap Website Punya Strategi Bisnis yang Berbeda

Ini juga perlu kita pahami. Website microstock punya model bisnis, kebijakan lisensi, dan strategi pengembangan produk yang nggak selalu sama. Ada platform yang memilih menerima konten AI dengan aturan khusus. Ada juga yang membangun layanan AI sendiri, tetapi tetap membatasi upload AI dari kontributor.

Contohnya, Adobe Stock menerima konten generative AI yang memenuhi persyaratan mereka. Sementara Shutterstock menyediakan fitur AI untuk penggunanya, tetapi tetap menyatakan bahwa mereka nggak menerima konten AI yang diunggah langsung oleh kontributor ke library mereka. Sekilas memang terlihat bertentangan.

Tapi dari sudut pandang bisnis, ada perbedaan antara platform menyediakan alat AI yang mereka kelola sendiri dan menerima file AI dari berbagai sumber eksternal. Dengan mengelola layanan AI sendiri, platform bisa menetapkan proses, aturan, dan mekanisme kompensasi yang mereka gunakan. Sementara menerima konten dari berbagai generator eksternal bisa menimbulkan tantangan tambahan terkait hak cipta, asal data, dan kualitas. Jadi, jangan menganggap semua website microstock punya aturan AI yang sama.




7. Kalau Shutterstock Melarang AI, Kenapa Ada Gambar AI di Shutterstock?

Nah, ini pertanyaan yang cukup sering muncul. Kawan-kawan mungkin pernah melihat gambar AI di Shutterstock, lalu bertanya:

“Katanya nggak boleh upload AI, kok ada gambar AI di sana?”

Shutterstock memang punya fitur AI Image Generator. Lewat fitur ini, pengguna bisa membuat gambar AI, lalu melisensikan dan mengunduhnya melalui layanan Shutterstock. Shutterstock juga menjelaskan bahwa penggunaan fitur AI tersebut berkaitan dengan mekanisme kompensasi kontributor melalui Contributor Fund.

Tapi, ada perbedaan penting antara gambar AI yang dibuat melalui layanan Shutterstock dan gambar AI yang diunggah sendiri oleh kontributor.

  • Gambar AI dari fitur Shutterstock: dibuat melalui layanan AI yang disediakan Shutterstock dan dapat dilisensikan sesuai ketentuan layanan tersebut.
  • Gambar AI dari generator eksternal: kontributor mengunggah sendiri hasil generator AI ke marketplace Shutterstock.

Shutterstock menyatakan bahwa mereka tidak menerima konten AI yang diunggah langsung oleh kontributor untuk dilisensikan di platform mereka. Kebijakan ini berkaitan dengan pertimbangan hak kekayaan intelektual dan kompensasi bagi seniman.

Jadi, kalo kawan-kawan melihat gambar AI di Shutterstock, bukan berarti kontributor biasa boleh mengunggah gambar AI dari generator lain.

Intinya, Shutterstock punya layanan AI sendiri, tapi tetap melarang kontributor mengirimkan karya AI buatan mereka sendiri ke marketplace.


8. Apakah Adobe Stock Berarti Bebas Upload AI?

Nggak juga, kawan-kawan.

Adobe Stock memang menerima konten generative AI, tetapi bukan berarti semua gambar AI pasti diterima. Kontributor tetap harus memastikan bahwa mereka memiliki hak yang diperlukan untuk mengirimkan karya tersebut. Konten juga harus mengikuti aturan teknis, kualitas, pelabelan, dan persyaratan hukum yang berlaku.

Adobe meminta kontributor menandai konten yang dibuat menggunakan generative AI. Untuk konten yang menggambarkan orang atau properti tertentu, bisa ada persyaratan tambahan seperti model release atau property release. Adobe juga melarang pengiriman konten yang melanggar hak kekayaan intelektual pihak lain dan meminta kontributor menghindari karya yang meniru artis atau merek yang dikenal. Jadi, meskipun platform menerima AI, kita tetap harus membaca panduannya dengan teliti.


9. Apa yang Harus Dilakukan Kontributor Microstock?

Buat kawan-kawan yang aktif di beberapa website microstock, ada beberapa hal yang mending dilakukan sebelum mengunggah karya:

  • Cek aturan setiap platform: Jangan berasumsi bahwa kalo satu website menerima AI, website lain juga pasti menerima.
  • Pastikan hak penggunaan dari tool AI yang dipakai: Baca ketentuan generator AI yang digunakan. Pastikan lisensinya mengizinkan penggunaan komersial dan pengiriman ke marketplace stock.
  • Jangan menyamarkan karya AI sebagai foto asli: Kalo platform meminta label AI, tandai dengan benar. Jangan mencoba mengakali sistem dengan menghapus informasi atau menyembunyikan asal konten.
  • Seleksi hasil dengan teliti: Periksa anatomi, detail objek, komposisi, dan kesalahan visual lainnya. Jangan mengunggah semua hasil generator secara membabi buta.
  • Hindari meniru karya atau identitas pihak lain: Jangan menggunakan nama artis, karakter terkenal, atau merek sebagai jalan pintas untuk mendapatkan perhatian pembeli. Perhatikan juga aturan khusus platform mengenai prompt dan metadata.




Share:

0 comments:

Posting Komentar

Labels