Belajar mencari uang secara online

Cari artikel disini ...

Apa Bedanya antara Foto Commercial dan Foto Editorial?



Hei kawan-kawan, kembali lagi di Microstock Indonesia, tempat belajar mencari uang secara online.

Buat kawan-kawan yang baru mulai belajar Shutterstock, mungkin pernah menemukan istilah:

Commercial dan Editorial Terus muncul pertanyaan: "Apa sih bedanya foto commercial dan editorial?"

Gambaran umum secara SANGAT sederhananya seperti ini:

Foto commercial biasanya dibuat dengan objek yang aman untuk keperluan iklan, misalnya tanpa logo atau brand yang terlihat dan dengan izin jika ada orang atau properti yang dapat dikenali, sedangkan foto editorial bisa menampilkan logo, brand, orang, atau suasana kejadian nyata untuk kebutuhan informasi atau berita.

Sekarang Yuk Kita Bahas

Banyak yang mengira foto commercial itu harus ada modelnya. Padahal nggak begitu. Foto commercial nggak harus ada manusia sama sekali. Foto makanan, foto benda, foto tanaman, foto interior, foto meja kerja, foto background, sampai foto konsep bisnis juga bisa menjadi commercial.

Begitu juga editorial. Editorial bukan sekadar foto yang ada logo atau orang tanpa model release.

Jadi, daripada kita menghafalkan aturan secara sepotong-sepotong, mending kita pahami dulu tujuan dan karakter dari masing-masing jenis konten.


Apa Itu Foto Commercial?

Sederhananya, commercial content adalah konten yang bisa digunakan untuk kebutuhan komersial, seperti iklan, promosi, marketing, website perusahaan, brosur, media sosial bisnis, billboard, dan berbagai kebutuhan untuk menjual atau mempromosikan produk, bisnis, atau jasa.

Nah, karena penggunaannya untuk kepentingan komersial, ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan. Tapi sekali lagi... Commercial nggak berarti harus ada model. Justru banyak foto commercial yang objeknya cuma benda.


Contoh Foto Commercial Tanpa Model

Misalnya kawan-kawan memotret:

Foto makanan

Contohnya foto semangkuk salad dengan background putih. Nggak ada manusia. Nggak ada logo. Nggak ada brand. Foto seperti ini bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan. Misalnya website restoran, artikel tentang makanan sehat, iklan makanan, buku resep, media sosial, dan lain-lain.

Jadi foto seperti ini bisa punya nilai komersial walaupun nggak ada satu orang pun di dalam fotonya.

Foto benda

Misalnya foto sebuah notebook, pensil, gelas kopi, dan laptop yang disusun di atas meja. Foto seperti ini bisa digunakan untuk artikel tentang pekerjaan, produktivitas, pendidikan, bisnis, atau lifestyle.

Lagi-lagi... Nggak ada model. Tapi tetap bisa menjadi foto commercial.

Foto tanaman

Misalnya kawan-kawan memotret tanaman monstera dalam pot dengan background bersih. Foto tersebut bisa digunakan untuk website toko tanaman, artikel tentang gardening, desain interior, media sosial, atau berbagai kebutuhan lainnya.

Foto background

Contohnya:

  • Tekstur kayu
  • Background kertas
  • Background beton
  • Background abstrak
  • Tekstur kain
  • Background minimalis

Foto seperti ini juga bisa digunakan sebagai elemen desain. Misalnya untuk poster, website, packaging, banner, atau media sosial. Jadi jangan berpikir commercial harus selalu berupa foto orang yang sedang tersenyum sambil memegang laptop. 😄


Foto Commercial dengan Model

Nah, tentu saja foto dengan model juga bisa menjadi commercial. Misalnya foto seorang pria sedang olahraga. Atau wanita sedang bekerja menggunakan laptop. Foto seperti ini bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan advertising dan marketing. Tapi karena ada orang yang dapat dikenali, biasanya ada persyaratan tambahan.

Untuk commercial content yang menampilkan orang yang dapat dikenali, Shutterstock secara umum meminta model release yang valid. Jadi misalnya kawan-kawan motret teman sendiri dan wajahnya terlihat jelas, jangan berpikir:

"Kan teman saya sendiri, jadi bebas."

Tetap ada urusan izin penggunaan secara komersial. Bahkan Shutterstock menyebut bahwa model release diperlukan untuk setiap orang yang dapat dikenali dalam commercial content, termasuk ketika orang tersebut adalah diri kita sendiri.


Commercial Juga Harus Memperhatikan Logo

Nah, ini juga penting. Misalnya kawan-kawan membuat foto meja kerja. Di atas meja ada laptop. Ternyata di laptop tersebut ada logo perusahaan yang terlihat jelas.

Untuk commercial content, trademark, nama perusahaan, atau logo milik pihak ketiga pada umumnya nggak boleh terlihat. Makanya sebelum upload, mending periksa foto dengan teliti. Kadang kita merasa foto sudah bersih. Tapi setelah diperbesar, ternyata ada logo kecil di sudut foto.


Commercial Bukan Berarti Harus Serba Putih dan Bersih

Ada juga yang mengira foto commercial harus seperti foto produk di studio. Nggak juga. Commercial bisa berupa berbagai macam konsep. Yang penting kontennya bisa digunakan untuk kebutuhan komersial dan memenuhi persyaratan Shutterstock.


Lalu Apa Itu Foto Editorial?

Sekarang kita masuk ke editorial.

Secara sederhana, editorial adalah konten yang digunakan untuk memberikan informasi, menggambarkan suatu kejadian, atau membahas suatu topik yang memiliki nilai berita atau human interest, bukan untuk mengiklankan atau mempromosikan produk, bisnis, atau jasa.

Contohnya:

  • Demonstrasi
  • Konser
  • Pertandingan olahraga
  • Festival
  • Parade
  • Kondisi sebuah kota
  • Bencana alam
  • Acara publik
  • Aktivitas masyarakat
  • Peristiwa tertentu

Misalnya kawan-kawan datang ke sebuah konser. Kalian memotret suasana konser. Ada penonton. Ada panggung. Ada logo sponsor. Ada nama brand. Ada artis. Foto tersebut bisa mempunyai nilai editorial karena menggambarkan kejadian nyata. Tapi tentu saja tetap harus memenuhi persyaratan editorial Shutterstock.


Editorial Bisa Ada Logo

Nah, ini salah satu perbedaan yang sering bikin contributor pemula bingung. Misalnya kawan-kawan memotret suasana supermarket. Di sana ada banyak produk dan logo. Ada minuman. Ada makanan. Ada papan nama toko. Ada berbagai brand. Kalo foto tersebut memenuhi persyaratan editorial, logo dan nama bisnis bisa saja tetap terlihat.

Karena tujuan fotonya bukan:

"Ayo beli produk ini!"

Tapi misalnya:

"Suasana supermarket di Jakarta."

atau

"Aktivitas konsumen di supermarket."

Konteksnya berbeda. Shutterstock memang menjelaskan bahwa documentary editorial pada umumnya bisa menampilkan nama bisnis, logo, dan orang yang dapat dikenali tanpa model release.


Tapi Jangan Berpikir Ada Logo = Editorial

Nah, ini penting banget. Jangan sampai setelah membaca bagian sebelumnya kawan-kawan berpikir:

"Oh, kalo foto saya ada logo, tinggal upload sebagai editorial."

Nggak sesederhana itu.

Adanya logo nggak otomatis membuat foto menjadi editorial. Foto editorial harus memang memenuhi kriteria dan persyaratan editorial.

Misalnya foto dokumentasi sebuah pertandingan sepak bola bisa masuk editorial karena menggambarkan kejadian nyata.

Tapi foto produk dengan logo yang sengaja kita susun di atas meja bukan otomatis menjadi editorial dokumenter. Kita harus melihat konteks fotonya.


Commercial vs Editorial dari Contoh yang Sama

Biar lebih gampang, kita pakai satu objek.

Misalnya sebuah botol minuman.

Commercial

  • Kawan-kawan membuat foto minuman dengan botol polos.
  • Lighting bagus.
  • Background bersih.
  • Nggak ada logo.
  • Nggak ada brand.

Foto tersebut bisa digunakan untuk konsep minuman, kesehatan, lifestyle, atau berbagai kebutuhan komersial lainnya. Ini bisa menjadi commercial content.

Editorial

  • Sekarang bayangkan kawan-kawan memotret sebuah supermarket.
  • Di dalam foto ada rak minuman dan berbagai brand.
  • Foto tersebut menggambarkan kondisi supermarket secara nyata.

Tujuannya untuk mengilustrasikan artikel tentang industri minuman, perubahan harga, kebiasaan konsumen, atau topik terkait. Ini bisa memiliki fungsi editorial.

Jadi objeknya sama-sama minuman. Tapi cara dan konteks penggunaannya berbeda.


Bagaimana dengan Foto Benda yang Ada di Rumah?

Ini juga menarik. Misalnya kawan-kawan punya:

gelas biasa.

  • Kalian foto gelas tersebut di atas meja.
  • Nggak ada logo.
  • Nggak ada karya seni yang bermasalah.
  • Nggak ada manusia.
  • Nggak ada brand.

Foto seperti ini bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan commercial.  Jadi sekali lagi: Commercial nggak harus ada model.


Bagaimana dengan Foto Bangunan?

Nah, kalo memotret bangunan juga harus sedikit hati-hati. Ada bangunan yang bisa difoto dan digunakan secara commercial. Tapi ada juga properti atau desain arsitektur tertentu yang memiliki perlindungan atau membutuhkan property release.

Shutterstock menjelaskan bahwa property release bisa diperlukan untuk berbagai jenis properti atau intellectual property yang dapat dikenali, termasuk artwork, patung, bangunan/interior tertentu, private land, dan objek lainnya. Jadi jangan memakai aturan sederhana:

"Bangunan nggak ada orangnya, berarti pasti commercial."

Nggak begitu. Tetap harus dilihat objeknya dan apakah ada hak pihak lain yang perlu diperhatikan.


Commercial Itu Intinya Apa?

Kalo mau dibuat sesederhana mungkin:

Coba bayangkan ada sebuah perusahaan. Mereka ingin menggunakan foto kita untuk:

iklan, promosi, marketing, website bisnis, brosur, media sosial, billboard, atau menjual produk/jasa.

Nah, mereka membutuhkan commercial content. Karena itulah commercial content punya persyaratan yang lebih ketat. Kita harus memastikan nggak ada masalah dengan orang, properti, artwork, trademark, atau intellectual property lainnya.


Editorial Itu Intinya Apa?

Sekarang bayangkan sebuah media ingin membuat artikel. Mereka membutuhkan foto untuk menjelaskan:

"Apa yang sedang terjadi?"

"Bagaimana kondisi tempat ini?"

"Apa yang terjadi pada perusahaan tersebut?"

"Bagaimana suasana acara ini?"

"Seperti apa kondisi masyarakat saat ini?"

Nah, kebutuhan seperti ini lebih dekat dengan editorial. Shutterstock menjelaskan bahwa editorial dapat digunakan untuk mengilustrasikan berita dan peristiwa terkini maupun topik human interest seperti seni, bisnis, budaya, kesehatan, lifestyle, acara sosial, teknologi, dan perjalanan.


Ada Satu Lagi: Editorial Nggak Selalu Berarti Foto Berita

Ini juga menarik. Shutterstock saat ini membagi editorial ke beberapa kategori, termasuk Documentary Editorial dan Illustrative Editorial.

Jadi editorial nggak selalu berarti kita harus berada di lokasi kejadian seperti wartawan. Ada juga illustrative editorial, yaitu konten yang dibuat atau ditata untuk menggambarkan suatu ide, topik, atau konsep yang berkaitan dengan human interest atau topik yang layak diberitakan.

Contohnya bisa berupa foto produk atau objek tertentu yang digunakan untuk menggambarkan sebuah topik. Jadi pengertian editorial sebenarnya lebih luas daripada sekadar: "Foto berita."


Mana yang Lebih Mudah Dibuat?

Nggak ada jawaban yang mutlak. Tapi buat contributor pemula, commercial object photography bisa menjadi salah satu jenis konten yang menarik untuk dipelajari.

Kenapa? Karena kita nggak selalu membutuhkan model. Kita bisa mulai dari benda-benda sederhana yang ada di sekitar rumah. Tinggal belajar bagaimana membuat pencahayaan, komposisi, background, dan konsep yang membuat benda sederhana tersebut punya nilai sebagai stock.

Ini juga bisa jadi latihan yang bagus buat belajar fotografi commercial.


Jadi, Jangan Selalu Berpikir Harus Cari Model

Kalo kawan-kawan baru mulai microstock dan belum punya model, nggak perlu minder. Kalian masih bisa membuat banyak commercial content. Cari objek di sekitar. Cari konsep. Misalnya:

Kopi + laptop = konsep bekerja

Kalkulator + uang = konsep keuangan

Sepatu olahraga + botol air = konsep olahraga

Sayuran + talenan = konsep memasak

Buku + kacamata = konsep belajar

Tanaman + sekop = konsep gardening

Nah, dari benda-benda sederhana seperti itu saja sebenarnya sudah bisa dibuat banyak konsep foto stock.




Share:

0 comments:

Posting Komentar